Kamis, 15 Oktober 2009

Motivasi Belajar dan analisis kebutuhan pada mahasiswa

Sa’dun Akbar & Hadi Sriwiyana

Abstract: Era otonomi dewasa ini, baik otonomi daerah maupun otonomi pendidikan, diperlukan sumber daya manusia yang berkarakter: ulet, kreatif, inovatif, pekerja keras, mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan secara mandiri, optimis, berorientasi ke depan, dan bermoralitas tinggi. Universitas Negeri Malang sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menyiapkan sumber daya manusia (mahasiswa) masa depan selayaknya juga ikut mengambil bagian dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter tersebut. Karakter tersebut ada pada diri seorang entrepreneurship (wirausahawan).

Kata Kunci: motivasi belajar, analisis kebutuhan, motivasi berprestasi, mahasiswa.

Teori-teori motivasi berpendapat bahwa tingkah laku itu pada dasanya mengarah pada pencapaian suatu tujuan tertentu. Filosof mekanistik beranggapan bahwa tingkah laku itu merupakan dorongan yang tumbuh dari dalam dimana orang tidak mampu mengendalikannya (Budiyanto, 1998).

Motif tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan fisik saja tetapi berhubungan dengan harga diri, pengakuan masyarakat dan sebagainya yang sering disebut dengan istilah motif sosial. Apa yang terjadi pada dunia entrepreneurship cenderung merupakan perpaduan dari kedua motif tersebut (Budiyanto, 1998).

Orang yang cenderung motif berkuasanya tinggi lebih cocok menjadi manajer eksekutif (pengelola), sedangkan yang motif afiliasinya tinggi lebih tepat menjadi public relation atau pekerja sosial, sedangkan dalam entrepreneurship lebih dibutuhkan bagi mereka yang memiliki motivasi kebutuhan berprestasi yang tinggi karena pada dirinya memiliki dorongan untuk meningkat yang tinggi. Bahkan, McClelland (1974) menyatakan bahwa motif berprestasi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi.

Ardana 1990 (dalam Munawaroh 2008) menyatakan bahwa tingkat motivasi dinyatakan dalam ketekunan, keuletan, daya tahan, keberanian menghadapi tantangan, kegairahan dan kerja keras.

Munawaroh (2008) menyatakan bahwa tingkat motivasi belajar pada dasarnya merupakan keseluruhan daya penggerak psikis siswa yang menumbuhkan gairah, rasa senang, dan semangat dalam belajarnya. Motivasi ini memiliki ciri-ciri ketekunan, keuletan, daya tahan, keberanian menghadapi tantangan, kegairahan, dan kerja keras yang pada gilirannya dapat meningkatkan perolehan belajarnya.

Entrepreneur itu lazimnya memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi dipandang cocok untuk menjadi seorang wirausahawan. Dengan kata lain, di era otonomi ini sangat diperlukan orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi agar mereka dapat hidup (survive) dalam persaingan untuk dapat bertahan hidup dan melangsungkan kehidupan, agar mereka dapat menghidupi di dunia yang mereka huni.

Apapun profesinya sangat memerlukan sikap mental sebagai entrepreneur. Seorang guru misalnya, ia perlu mempunyai keberanian untuk mengembangkan pembelajaran yang inovatif, mereka perlu memiliki keuletan untuk terus berupaya mengatasi berbagai masalah pembelajaran dan pendidikan yang mereka hadapi sehari-hari. Guru-guru dan sumber daya manusia lain yang profesional diperlukan untuk masa depan. Salah satu ciri-ciri keprofesionalan seseorang di antaranya adalah mereka mau dan mampu mengembangkan dunia yang menjadi bidangnya sehari-hari. Untuk mau dan mampu mengembangkan dunianya tersebut mereka perlu memiliki ciri-ciri pribadi yang berani, kreatif, inovatif, pekerja keras, ulet dan mandiri. Mereka memiliki sifat sebagai seorang entrepreneur.

Masalahnya adalah ada gejala-gejala yang tampak pada generasi muda dalam hal ini mahasiswa bahwa banyak diantara mereka yang suka mengambil jalan pintas dan kurang menampakkan keuletan mereka. Ada saja diantara mahasiswa yang suka menyontek, menjiplak karya orang lain, kurang disiplin, kemauan kerjanya rendah, daya kreasi dan inovasinya rendah, berorientasi pada jangka pendek, motivasi belajarnya rendah. Keadaan ini sangat berlawanan dengan tuntutan dunia masa kini, tuntutan otonomi daerah, otonomi pendidikan yang memang memerlukan pribadi-pribadi yang berperilaku sebagai entrepreneur.

Teori-teori tentang motivasi banyak dipelajari dalam ranah studi psikologi dan manajemen. Teori ini berkaitan dengan perilaku individu, kedua ranah studi tersebut memang berkaitan dengan perilaku individu. Salah satu tokoh yang cukup dikenal adalah Abraham Maslow. Ia adalah pionir dari aliran psikologi humanistik. Teorinya yang cukup terkenal adalah mengenai Theory of Hierarchy Needs. Menurutnya, manusia memunculkan suatu perilaku didasarkan pada kebutuhan yang ada.

Dalam teori motivasi Maslow (1954) dinyatakan bahwa perilaku seseorang itu ditentukan oleh motivasinya. Motivasi seseorang ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan pokoknya (basic need). Kebutuhan pokok seseorang terdiri atas kebutuhan-kebutuhan yang secara hierarkis dari rendah ke tinggi mencakup: fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta/kasih sayang, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan yang lebih tinggi baru akan terpenuhi kalau kebutuhan yang lebih rendah sudah terpenuhi.

Maslow berargumen bahwa seseorang tidak akan mencapai tingkat kebutuhan yang lebih tinggi sebelum tercapai kebutuhan yang di bawahnya. Misalnya, seseorang akan sulit mendapatkan kebutuhan akan cinta kalau kebutuhan fisiologisnya belum tercapai. Begitu seterusnya hingga sampai kebutuhan aktualisasi diri. Namun dalam penelitian selanjutnya ternyata ada individu yang tidak begitu saja harus membutuhkan kebutuhan di bawahnya sebelum meraih kebutuhan yang di atasnya. Penelitian mengenai peak-experience terhadap orang-orang yang memiliki pengalaman spiritual seperti Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, yang kemudian memfalsifikasi teori tersebut. Orang-orang semacam Gandhi atau Theresa yang langsung mencapai tingkat aktulaisasi diri tanpa melalui strata kebutuhan yang di bawahnya.

Sementara motivasi berprestasi (achievement motivation) merupakan teori yang dikenalkan oleh David McClelland. Dasar teorinya tetap berdasarkan teori kebutuhan Maslow, namun ia mencoba mengkristalisasinya menjadi tiga kebutuhan yaitu: Need for Power (nPow), Need for Affiliation (nAff), Need for Achievement (nAch).

Dalam membangun teorinya ini ia mengajukan teori kebutuhan motivasi yang dipelajari yang erat hubunganya dengan konsep belajar. Ia percaya bahwa banyak kebutuhan yang didapatkan dari kebudayaan suatu masyarakat. Untuk melihat motivasi berprestasi ini ia menggunakan metode pengetesan dengan tes TAT (Thematic Apperception Test). Tes ini merupakan tes proyektif yang menggunakan analisa terhadap seseorang dari gambar-gambar untuk mengetahui perbedan individual (Gibson, et.al., 1996). Tes ini dikembangkan oleh seorang psikolog Henry Murray dari klinik Psikologi Harvard, AS tahun 1943 (Groth-Marnat, 1984).

Berdasarkan penelitian di bidang kewirausahaan Mc.Clelland (1961, dan Syaodih, 1983) menyimpulkan beberapa karakteristik dari motif berprestasi yang tinggi yaitu (1) mencari dan memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi, (2) berani mengambil risiko, (3) memiliki tujuan yang tinggi tetapi realistik, (4) mengembangkan rencana yang menyeluruh untuk merealisasikan tujuan, dan (5) mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah disusun.

Penelitian tentang pelatihan dan motivasi terhadap produktivitas tenaga kerja pada Unit Kerja Kredit Bank Jabar yang dilakukan oleh Ragam Santika (1995) menunjukkan bahwa (1) pelatihan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja sebesar 14,69 %, dan (2) secara bersama-sama pelatihan dan motivasi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja sebesar 16,56% .

Sebuah penelitian tentang peranan motivasi berprestasi dan risiko dalam pilihan karier atau jabatan (ocupational choice) menunjukkan bahwa kemauan untuk mandiri dan sukses lebih penting bagi wirausahawan, sedangkan pilihan pengambilan risiko secara individual tidak signifikan dalam menjelaskan pilihan karier kewirausahaan (Tucker, 1988).

David McClelland (1987) melihat bahwa ramuan esensial untuk terbentuknya tingkah laku kewirausahaan adalah motivasi berprestasi. Faktor Motivasi, seperti yang dikatakan Abraham Maslow (1954), McClelland (1987) dan McClelland & Peter A Turla (1993) mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih luas dan selanjutnya akan mempengaruhi pola pikir dan tindakannya (Soehartono, 1995). Dorongan dalam diri merupakan faktor penting bagi wirausaha khususnya wirausaha pemula (Siman, 1997).

Penelitian yang dilakukan sekolah kejuruan di North Dakota yang mengajarkan pelajaran kewirausahaan pada tahun 1994-1995 menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan pada sekolah menengah dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman konsep kewirausahaan dan mengenalkan kepada siswa suatu model wirausahawan yang berhasil. Sementara itu, pengajaran yang dipandang efektif adalah dengan menggunakan metode mengajar yang mendorong kreativitas, individualitas, dan mendapatkan pengalaman kerja (Wood, 1995).

Kebutuhan akan rasa aman akan terpenuhi kalau kebutuhan fisiologisnya sudah terpenuhi, kebutuhan akan cinta terpenuhi kalau kebutuhan fisiologis dan keamanan sudah terpenuhi, kebutuhan harga diri akan terpenuhi kalau kebutuhan fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta sudah terpenuhi, dan kebutuhan akan aktualisasi diri akan terpenuhi kalau kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan memiliki, dan penghargaan diri sudah terpenuhi.

Demikian halnya dengan motivasi belajar mahasiswa. Jika ditelusuri terjadinya motivasi belajar, bisa juga didorong oleh kebutuhan-kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan diri, dan perwujudan diri. Orang-orang mempunyai motivasi belajar yang tinggi ataupun rendah, jika mengacu pada teori motivasinya Maslow, maka orang yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi ataupun rendah adalah dalam kerangka memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan diri, dan aktualisasi diri.

Seseorang yang motivasi untuk mengaktualisasikan dirinya tinggi biasanya motivasi berprestasinya tinggi. Orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi sangat cocok untuk menjadi seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur akan selalu siap menghadapi berbagai tantangan hidupnya, ia mempunyai karakteristik: keberanian yang tinggi, kreatifitas dan daya inovatifnya sangat tinggi, ia seorang yang sangat ulet, tangguh, kokoh, dan mandiri. Ia merupakan pribadi yang otonom dan tepat untuk hidup di era otonomi dalam berbagai bidang kehidupan. Karakteristik entrepreneur itu perlu dimiliki oleh mahasiswa termasuk mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dan teori motivasi Maslow, maka peneliti berupaya mendeskripsikan seperti apa motivasi mahasiswa Universitas Negeri Malang sebagai sumber daya manusia masa depan, baik motivasi dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan cinta, penghargaan diri, dan perwujudan dirinya. Dengan diketahuinya motivasi mahasiswa tersebut maka dapat dilakukan analisis kebutuhan untuk peningkatan motivasinya dalam kerangka menumbuhkan semangat entrepreneurship yang sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan.

Tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: mendeskripsikan gambaran motivasi berprestasi mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi responden penelitian ini, mendeskripsikan kebutuhan apa yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi berprestasi mahasiswa Universitas Negeri Malang.

METODE

Penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Masalah penelitian ini adalah bagaimana motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi responden penelitian ini dan analisis kebutuhan apa yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa tersebut.

Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari kuesioner yang dikembangkan Maslow yang diadaptasi oleh Budiyanto (1998) untuk keperluan AMT untuk aplikatif dalam program penanggulangan pekerja terampil yang diselenggarakan oleh Koperasi Bakti Mandiri Kadinda Kodya Bandung 1998, kemudian peneliti adaptasi dan kembangkan lagi menjadi kuesioner untuk mengungkap motivasi belajar mahasiswa. Landasan teoretik yang peneliti gunakan tetap menggunakan teori motivasi Maslow.

Landasan teoritis penelitian ini menggunakan teori motivasi Maslow, oleh karena itu, deskripsi motivasi belajar dimaksud terfokus pada seperti apa kebutuhan-kebutuhan: fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta/kasih sayang, penghargaan diri, dan perwujudan diri responden penelitian ini. Setelah motivasi belajar mahasiswa dideskripsikan kemudian dilakukan analisis dengan melakukan need accessment untuk peningkatan motivasi belajar mahasiswa.

Responden penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi peserta pelatihan motivasi belajar yang diselenggarakan LP-3 Universitas Negeri Malang pada tanggal 27-30 Agustus 2008 sebanyak 74 peserta. Dari 74 responden tersebut secara terperinci terdapat: 14 mahasiswa berasal dari FIP, 20 mahasiswa dari FMIPA, 13 mahasiswa dari FT, 16 mahasiswa dari FS, dan 11 mahasiswa dari FE.

Penentuan responden ini tidak dimaksudkan sebagai sampel yang benar-benar mewakili mahasiswa Universitas Negeri Malang dan untuk keperluan generalisasi, tetapi sekedar contoh kecil yang menggambarkan motivasi belajar mereka untuk mendapatkan perhatian. Perlu disampaikan di sini bahwa keterlibatan mereka menjadi peserta berdasarkan undangan dari LP-3. sedangkan peserta berasal dari berbagai fakultas dan unit kegiatan mahasiswa yang ada di Universitas Negeri Malang dan mereka yang secara sukarela mendaftarkan diri ke LP-3.

Data dikumpulkan dengan menggunakan angket. Responden diberikan angket yang berisi pernyataan-pernyataan motivasional yang sesuai dengan dirinya. Substansi isi angket mengacu pada teori motivasi Maslow yang mengungkap tingkat motivasi belajar mahasiswa yang terfokus pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta/kasih sayang, penghargaan diri, dan perwujudan diri. Masing-masing fokus kebutuhan tersebut terdiri atas 5 item sehingga jumlah seluruh item dalam angket ada sebanyak 25 item. Angket ini tidak divalidasi terlebih dahulu, akan tetapi diadaptasi dari angket yang sudah teruji, dan secara kualitatif dapat ditelaah validitasnya.

Setelah responden mengisi angket di tempat pelatihan (Gedung Aula A-3 lantai II), responden diminta untuk mengoreksi sendiri terhadap pernyataan-pernyataan motivasionalnya dengan memasukkan pada lembar kerja yang sudah disediakan. Dari lembar kerja tersebut dapat diketahui tingkatan motivasi belajar mahasiswa dan kecenderungan-kecenderungan motivasionalnya.

Langkah berikutnya adalah lembar kerja yang sudah diisi responden tersebut kemudian dikumpulkan oleh peneliti, dilakukan tabulasi, dan dilakukan analisis rata-rata (%) kecenderungan motivasional belajar responden. Dari hasil kecenderungan motivasional responden tersebut, kemudian dilakukanlah analisis kebutuhan (need accessment) untuk peningkatan motivasi belajar mahasiswa.

Untuk menentukan tinggi rendahnya motivasi belajar mahasiswa dalam penelitian ini, digunakan kriteria pada tabel 1.

Tabel 1. Kriteria Nilai yang Dicapai Responden

Nilai Rata-Rata Motivasi yang Dicapai Responden

Kriteria

0-5

Sangat Rendah

6-10

Rendah

11-15

Sedang

16-20

Tinggi

21-25

Sangat Tinggi

HASIL

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Fisiologis

Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) mahasiswa yang telah mengerjakan tugas perkuliahannya dengan sangat baik seharusnya mendapatkan hadiah yang berupa uang; (2) pada saat perkuliahan seorang dosen hendaknya memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk membawa dan berbagi makanan di kelas; (3) pemberian rangsangan berupa pemberian hadiah material (uang, buku, kamus, biaya pondokan) terhadap mahasiswa yang berhasil akan membantu mahasiswa untuk lebih berhasil lagi di kemudian hari; (4) menganggap penting akan tersedianya peralatan perkuliahan yang lengkap; dan (5) prestasi akan lebih baik apabila diberi bantuan laptop sehingga dengan mudah dapat mengakses berbagai informasi melalui internet di kampus secara gratis.

Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 15,2% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Keamanan

Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) uraian yang sangat rinci dan jelas akan lebih membantu mahasiswa mengetahui mengetahui lebih tepat terhadap apa yang diharapkan mahasiswa; (2) hasil perkuliahan mahasiswa tidak begitu menentukan masa depannya sebab yang lebih menentukan adalah nama besar almamater Universitas Negeri Malang yang selama ini tidak diragukan lagi; (3) dana untuk pembuatan skripsi hendaknya dipersiapkan sejak awal agar mahasiswa tidak mengalami kesulitan ketika menyelesaikan skripsi atau studinya; (4) perkuliahan hendaknya diorientasikan untuk menjadi seorang pegawai negeri karena pegawai negeri akan mendapatkan dana pensiun; (5) Kuliah dapat menjadi sarana untuk memilih pacar yang mempunyai masa depan yang lebih baik.

Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 14,70% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong pada kategori sedang.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Memiliki dan Cinta/Kasih Sayang

Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan terhadap cinta dan memiliki rasa kasih sayang, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) seorang dosen harus berusaha sekeras-kerasnya untuk menciptakan dan membina suasana perkuliahan yang hangat serta ramah dengan mahasiswanya; (2) pengawasan yang ketat dalam ujian sebaiknya dihindari karena hal tesebut seringkali dapat menyinggung perasaan mahasiswa; (3) seorang ketua jurusan harus menunjukkan perhatiannya kepada mahasiswa dengan jalan mengadakan pertemuan-pertemuan yang bersifat sosial di sela-sela jam kerja; (4) kualitas hubungan dalam kelompok-kelompok mahasiswa secara tidak resmi merupakan sesuatu yang penting sekali; dan (5) tujuan ke kampus adalah untuk memperoleh teman yang lebih banyak.

Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan memiliki dan cinta/rasa kasih sayang, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 17,33% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong pada kategori tinggi.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Penghargaan Diri

Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) pemberian tanda penghargaan terhadap hasil belajar adalah sangat berarti bagi seorang mahasiswa; (2) pada umumnya setiap mahasiswa ingin sekali merasakan bahwa kecakapannya dapat dimanfaatkan untuk membantu teman mahasiswa lainnya; (3) ingin merasakan bahwa saya adalah yang paling unggul dalam perkuliahan; (4) mahasiswa senantiasa ingin mendapatkan penghargaan dari dosennya; dan (5) rasa malu digunjingkan orang lain karena tidak segera lulus dalam waktu yang lama adalah hal yang penting bagi mahasiswa.

Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 19,06% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi.

Deskripsi Motivasi Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Aktualisasi Diri

Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan perwujudan diri, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) semua tugas-tugas perkuliahan seharusnya lebih menantang, baru, dan menarik; (2) banyak mahasiswa yang ingin menyumbangkan ide-ide barunya untuk memperbaiki proses perkuliahan yang dilaksanakannya; (3) kebanggaan mahasiswa atas pencapaian prestasinya sebenarnya merupakan imbalan yang sangat penting; (4) lebih senang mengatur sendiri urusan perkuliahan yang hendak dilakukan dan membuat sendiri keputusan-keputusan yang sehubungan dengan perkuliahan dengan pengawasan dari dosen sedikit saja; dan (5) membuat target lulus yang cepat dengan indeks prestasi tinggi merupakan sesuatu yang penting bagi mahasiswa.

Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 18,77% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi.

Berdasarkan paparan data di atas, dapat dipaparkan temuan penelitian ini sebagai berikut: motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang; motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong sedang, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong tinggi, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi.

PEMBAHASAN

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis

Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang. Temuan ini menggambarkan bahwa mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi responden penelitian ini orientasi hidupnya tidak lagi pada sekedar untuk memenuhi kebutuhan untuk makan, minum, pakaian karena kebutuhan-kebutuhan tersebut sudah relatif terpenuhi pada taraf sedang. Mereka tidak lagi berpikiran pendek. Sebab, menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis berarti mereka tidak mau berpikir panjang. Pikirannya cenderung difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya seperti untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal. Penafsiran lainnya, bahwa sebagian mahasiswa yang menjadi responden penelitian ini kebutuhan fisiologisnya relatif sudah terpenuhi dan sebagian yang lain kurang terpenuhi sehingga berada pada taraf sedang artinya sebagian mereka sudah mau berpikir agak panjang dan sebagian yang lain kurang mau berpikir panjang. Dengan demikian di samping mereka masih perlu didorong untuk memenuhi kebutuhan pada level yang lebih tinggi yakni kebutuhan akan penghargaan diri dan kebutuhan untuk berprestasi yang tinggi, juga kebutuhan fisiologisnya perlu dipenuhi.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman

Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang menjadi responden penelitian kebutuhan rasa amannya relatif terpenuhi pada taraf sedang. Kadaan ini cukup baik karena menggambarkan mereka sudah mendapatkan ketenangan dan rasa aman dalam belajar di Universitas Negeri Malang. Menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya pada pemenuhan kebutuhan akan rasa aman orientasi hidupnya pada keselamatan dan keamanan, dan orang-orang ini hanya cocok menjadi seorang pekerja.

Karena hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan rasa aman mahasiswa masih berada pada tahap sedang, berarti sebagian mahasiswa orientasi kebutuhan akan rasa amannya masih cukup tinggi sehingga mereka perlu lebih banyak diberikan jaminan akan rasa aman, sedangkan sebagian yang lain kebutuhan akan rasa amnnya sudah terpenuhi/rendah, yang bagus apabila kebutuhan akan rasa amannya rendah, artinya mereka sudah mencapai kehidupan yang aman, sehingga orientasi hidupnya berada pada level yang lebih tinggi. Mereka masih perlu didorong untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Rasa Memiliki dan Cinta, atau Rasa Kasih Sayang

Penelitian ini menemukan bahwa, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong tinggi. Menurut Maslow (1954) orang-orang yang keutuhan akan rasa memiliki dan cinta, atau kebutuhan akan rasa amannya tinggi orientasi hidupnya lebih terfokus pada hidup kemasyarakatan, rasa sosialnya tinggi, dan orang-orang yang bertipe ini cenderung cocok kalau bekerja sebagai pekerja sosial seperti guru, ustads, agamawan, public relation.

Kedaan ini tampaknya baik untuk mahasiswa calon guru, namun demikian mereka masih perlu juga didorong untuk lebih mengorientasikan hidupnya pada kebutuhan berprestasi yang lebih tinggi lagi.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Penghargaan Diri

Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar mahasiswa yang menjadi responden ini yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi. Keadaan ini cukup baik karena menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya pada penghargaan diri yang tinggi orientasi hidupnya lebih terfokus pada kedudukan, jabatan, status sosial yang tinggi. Orang-orang yang orientasi hidupnya tertuju pada penghargaan diri yang tinggi ada kecenderungan kebutuhan akan fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki kasih sayangnya sudah relatif terpenuhi.

Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Prestasi

Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi. Keadaan ini menunjukkan sangat baik karena, menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya pada prestasi yang tinggi mereka sangat cocok untuk menjadi seorang wirausaha yakni seorang yang keberanian untuk hidup secara mandirinya sangat tinggi.

Di tengah-tengah kehidupan alumni Universitas Negeri Malang yang tidak mudah untuk segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus, maka dipandang penting untuk mengarahkan kepada mahasiswa yang orientasi pencapaian prestasi yang tinggi ini untuk menjadi seorang wirausaha. Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa korelasi antara kewirausahaan dengan need achievement yang tinggi telah terbukti secara signifikan.

Mc.Clelland (dalam Budiyanto, 1998) sangat optimis bahwa kewirausahaan seseorang dapat dipicu dan dipacu melalui training kewirausahaan. Orang-orang yang orientasi pada prestasinya tinggi sangat potensial untuk menjadi seorang pengusaha. Ia mengemukakan bahwa “training yang segera bagi seorang yang potensial menjadi pengusaha merupakan cara yang lebih mudah dan lebih cepat untuk mengembangkan motivasi ekonomi dalam negara yang belum maju”.

Menurut peneliti, Achievement Motivation Training (AMT) ini perlu diberikan baik kepada mahasiswa yang motivasi berprestasinya rendah maupun tinggi. Bagi mahasiswa yang motivasi berprestasinya rendah perlu mengikuti AMT agar mereka terdorong untuk mencapai prestasi yang tinggi. Menurut Maslow perilaku manusia dimotivasi oleh pemenuhan kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar manusia terdiri atas (berurutan dari rendah ke tinggi): kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan memiliki, penghargaan diri, dan perwujudan diri. Kebutuhan yang lebih tinggi baru akan terpenuhi jika kebutuhan yang lebih rendah sudah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan rasa aman akan terpenuhi jika kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi; kebutuhan kasih sayang akan terpenuhi jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman sudah terpenuhi. Kebutuhan akan penghargaan diri terpenuhi jika kebutuhan fisiologis, rasa aman, dan kasih sayang sudah terpenuhi; kebutuhan perwujudan diri akan terpenuhi jika kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan diri sudah terpenuhi.

Hasil tes motivasi ini akan menunjukkan kepada peserta, motivasi yang dicapai oleh peserta saat mengikuti pelatihan mencapai level mana. Kemungkinan hasil tes tersebut adalah, dimungkinkan para peserta posisi motivasinya berada level rendah atau pada level tinggi. Baik mereka yang berada pada level rendah maupun tinggi dibangkitkan untuk mengejar atau bertahan pada posisi motivasi pada level tinggi (orientasi berprestasi). Peserta kemudian didorong untuk mencapai prestasi tinggi, tidak perlu pencapaian prestasi tinggi melalui proses yang panjang seperti pada teori pemenuhan kebutuhan secara herarkhis yang dikemukakan Maslow. Sebab, jika peserta terdorong untuk mencapai prestasi tinggi maka kebutuhan-kebutuhan yang ada pada level yang lebih rendah dengan sendirinya akan terpenuhi. AMT merupakan jalan pintas untuk mencapai motivasi tertinggi (motivasi berprestasi). Orang-orang yang orientasi prestasinya tinggi sangat cocok untuk menjadi seorang wirausahawan.

Wirausahawan sangat perlu mengenali kekuatan (potensi) dan kelemahan (kendala) dirinya. Pengenalan dan pemanfaatan potensi diri dengan kesadaran akan kelemahan diri dapat diyakini akan mendorong (memotivasi) pencapaian cita-cita dan tujuannya. Semakin yakin akan prestasi diri semakin terdorong untuk berprestasi lebih baik lagi. Sejumlah aspek yang dapat membantu wirausahawan untuk mengembangkan prestasi diri adalah pemahaman tentang pengenalan diri dan motivasi berprestasi, pemahaman tentang kendala dan teknik dalam pengenalan dan pengungkapan diri, dan wawasan tentang nilai-nilai unggul dalam berprestasi (Siagian, 1996). Pengenalan diri merupakan modal dasar bagi seorang wirausahawan. Pengungkapan motivasi pada diri sendiri akan mencerminkan cara berpikir dan berperilaku seseorang pada kehidupannya sekarang dalam pencapaian prestasi dan kadar kebutuhannya.

Jika dikaitkan dengan pandangan Maslow, seseorang dikatakan berprestasi tinggi apabila ia mampu mengaktualisasikan diri. Aktualisasi diri merupakan level tertinggi pada hirarki kebutuhan Maslow. Mampu mengaktualisasikan diri berarti mampu melakukan apa yang cocok dengan apa yang dapat ia lakukan; ia dapat melakukan secara full use, atau eksploitasi seluruh bakat dan kemampuannya (Cook, 1984). Setiap orang pada dasarnya dapat mengaktualisasikan diri sesuai potensinya masing-masing.

Seseorang dianggap mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi apabila ia mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik atau ia menganggap berprestasi lebih baik. Adanya motivasi berprestasi yang tinggi dapat dilihat dari pertama, pola perbuatan (mengambil tanggung jawab secara pribadi atas perbuatan menentukan standar prestasinya dan berpatokan pada standar itu, mengambil risiko secara wajar, mencoba memperoleh umpan balik, dan berusaha selalu melakukan sesuatu secara kreatif dan inovatif); kedua, pola pemikiran (mengungguli atau melebihi orang lain, memenuhi/melebihi standar prestasi yang ditentukan sendiri, melakukan sesuatu yang khas, dan mencapai karier diri (Siagian, 1996).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan paparan data di atas, secara terperinci, maka dapat dipaparkan hasil penelitian ini sebagai berikut: Pertama, bahwa secara umum motivasi berprestasi mahasiwa Universitas Negeri Malang yang menjadi sampel penelitian ini adalah tinggi. Secara spesifik, motivasi-motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong sedang, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong tinggi, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi, dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi.

Kedua, berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan peneliti, kebutuhan yang diperlukan adalah memberikan dorongan kepada mahasiswa melalui diklat AMT bagi mahasiswa yang orientasi pemenuhan kebutuhannya berada pada level rendah untuk lebih berorientasi pada pencapaian prestasi yang tinggi, dan bagi yang orientasi pemenuhan kebutuhan prestasinya tinggi lebih diarahkan untuk menjadi seorang wirausahawan. Disamping itu, karena masih banyak juga mahasiswa yang motivasi belajarnya berada pada level rendah, maka dibutuhkan juga adanya layanan bagi mahasiswa yang tidak memberatkan mahasiswa karena diantara mereka masih ada yang orientasi pemenuhan kebutuhannya berada pada pemenuhan kebutuhan fisiologis, disamping itu juga perlu layanan yang lebih memberikan jaminan kenyamanan dan keamanan, serta rasa kasih sayang yang tinggi.

Saran

Universitas Negeri Malang memberikan layanan yang secara material memberatkan mahasiswa, dan peningkatan layanan yang dapat memberikan jaminan rasa nyaman dan aman dalam belajar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi mahasiswa yang menjadi sampel penelitian ini rata-rata tinggi, untuk itu disarankan mereka diarahkan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menjadi seorang wirausahawan, karena orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi sangat potensial dapat menjadi wirausahawan yang sukses.

Pemberian pelatihan AMT bagi mahasiswa perlu dilaksanakan terutama kepada mahasiswa yang motivasi berprestasinya rendah karena AMT telah banyak teruji dapat meningkatkan motivasi berprestasi bagi peserta pelatihan.

DAFTAR RUJUKAN

Akbar, S. 2000. Prinsip-Prinsip dan Vektor-Vektor Percepatan Proses Internalisasi Nilai Kewirausahaan. Disertasi, Bandung: PPS UPI Bandung.

Budiyanto. 1998. Panduan Achievement Motivation Training Aplikatif. Bandung: Kadinda Kodya Bandung.

Chusmir, L.H. 1989. A Measure of Motivation Needs, A Journal of Human Behavior, v26 n2-3 sept.

Clelland, M. & Atkinson, L. 1953. The Achievement Motive. New York: Apleton Century Crofts Inc.

Clelland, D.C. 1987. Characteristic of Succesful Entrepreneur. Journal of Creative Behavior, v21 n3 jun.

Cook, M. 1994. Levels of Personality. New York: Praeger Publisher. A Devition of CBS Inc.

Gibson, I & Donelly. 1996. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta: Binarupa Aksara.

Goleman, D. 1997. Alih Bahasa: T. Hermaya. Emotional Intellegence. Jakarta: Gramedia.

Maslow. 1954. Motivation and Personality. New York: Harper and Brother.

Munawaroh. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Konstruktivistik, Cara Belajar dan Motivasi Belajar Terhadap Sikap Kewirausahaan pada Siswa SMKN 1 Jombang. Makalah, Malang: PPS UM.

Santika, R. 1995. Kontribusi Pelatihan dan Motivasi terhadap Produktivitas Tenaga Kerja pada Unit Kerja Kredit Bank Jabar. Tesis, Bandung: PPS UNPAD Bandung.

Siagian. 1996. Kewirausahaan Indonesia: Dengan Semangat 17-8-1945. Jakarta: Puslatpenkop dan PK.

Siman. 1997. Pembelajaran Nilai Kewirausahaan dalam Pengembangan Industri Kecil di Wilayah Bandung. Disertasi, Bandung: PPS IKIP Bandung.

Syaodih, N. 1983. Kontribusi Konsep Mengajar dan Motif berprestasi terhadap Proses Mengajar dan Hasil Belajar. Bandung: PPS IKIP Bandung.

Tucker, I.B. 1988. Entrepreneur and Public Sector Employees, The Role of Achievement Motivation and Risk in Occupational Choice. Journal of Economic Education, v19 n3 jan.

Wood, D.P. 1995. Entrepreneurship Education: Beliefs and Experiences of North Dakota Vocational Secondary School Teachers. Disertation Abstract, The University of Dakota.

Pengertian dan Teori Motivasi

Ketika mata kiri melirik ke SAP online dan mata kanan ke kalendar akademik, …..waduh cilaka ternyata jatah ngajar sebelum UTS tinggal satu kali pertemuan lagi. Padahal materi yang diberikan masih lumayan banyak. Saya pun buru-buru berburu bahan ajar terburu eh terbaru, atau setidak-tidaknya me-review kembali beberapa bahan ajar yang sudah diunggah ke staffsiteku. Tulisan ini akan memaparkan tentang sejarah teori kewirausahaan, yang konsepnya sudah disebut-sebut dari zaman “baheula”, diantaranya oleh Jean Baptista Say dan Richard Cantillon pada awal abad ke-18.

Pengertian Kewirausahaan

Istilah entrepreneur pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18 oleh ekonom Perancis, Richard Cantillon. Menurutnya, entrepreneur adalah “agent who buys means of production at certain prices in order to combine them”. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ekonom Perancis lainnya- Jean Baptista Say menambahkan definisi Cantillon dengan konsep entrepreneur sebagai pemimpin. Say menyatakan bahwa entrepreneur adalah seseorang yang membawa orang lain bersama-sama untuk membangun sebuah organ produktif.

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Jean Baptista Say (1816): Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.

Frank Knight (1921): Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan.

Joseph Schumpeter (1934): Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk (1) memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru, (2) memperkenalkan metoda produksi baru, (3) membuka pasar yang baru (new market), (4) Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau (5) menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya.

Penrose (1963): Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.

Harvey Leibenstein (1968, 1979): Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

Israel Kirzner (1979): Wirausahawan mengenali dan bertindak terhadap peluang pasar. Entrepreneurship Center at Miami University of Ohio: Kewirausahaan sebagai proses mengidentifikasi, mengembangkaan, dan membawa visi ke dalam kehidupan. Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu. Hasila akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi resiko atau ketidakpastian. Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.

Teori Kewirausahaan

Sebelum memaparkan teori kewirausahaan, terlebih dahulu saya mengulas pengertian “teori”. Maksudnya sekalian menyegarkan ingatan saya sendiri sih, kan semester ini mengajar metodologi penelitian juga hehehe. Kita biasanya menggunakan teori untuk menjelaskan sebuah fenomena. Fenomena yang akan dijelaskan disini adalah kehadiran entrepreneurship yang mempunyai kontribusi besar dalam pengembangan ekonomi. Teori tersebut terdiri dari konsep dan konstruk, nah lho apa ya beda kedua istilah tersebut? :). Teori adalah “sekumpulan konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang saling berhubungan” yang menunjukkan pandangan sistematis terhadap sebuah fenomena dengan merinci hubungan antar variabel, dengan tujuan untuk menerangkan dan memprediksi fenomena. Mari kita lihat beberapa teori yang menjelaskan dan memprediksi fenomena mengenai kewirausahaan.

Neo Klasik, teori ini memandang perusahaan sebagai sebuah istilag teknologis, dimana manajemen (individu-individu) hanya mengetahui biaya dan penerimaan perusahaan dan sekedar melakukan kalkulasi matematis untuk menentukan nilai optimal dari variabel keputusan. Hmmm, jadi individu hanya bertindak sebagai “kalkulator pasif” yang kontribusinya relatif kecil terhadap perusahaan. Kasihan bener ya tapi Masa sih? …… Jadi pendekatan neoklasik tidak cukup mampu untuk menjelaskan isu mengenai kewirausahaan. Kata Grebel dkk, “There is no space for an entrepreneur in neoclassical theory”. Nah loh, jadi dimana letak teori kewirausahaannya dong? Tapi sebagai titik awal masih bermanfaat juga kok. Kan konsep perusahaan (the firm) yang dijelaskan dalam Neo Klasik masih mengakui juga keberadaan pihak manajemen atau individu-individu. Dan individu inilah yang nantinya berperan sebagai entrepreneur atau intrapreneur, yang akan dijelaskan pada teori-teori selanjutnya.

Schumpeter’s entrepreneur, kajian schumpeter lebih banyak dipengaruhi oleh kajian kritisnya terhadap teori keseimbangan (equilibrium theory)-nya Walras. Waduh…. harus mengulang kembali berbagai teori-teori ekonomi nih hehehe. Menurut beliau, untuk mencapai keseimbangan diperlukan tindakan dan keputusan aktor (pelaku) ekonomi yang harus berulang-ulang dengan “cara yang sama” sampai mencapai keseimbangan. Jadi kata kuncinya “berulang dengan cara yang sama”, yang menurut Schumpeter disebut “situasi statis”, dan situasi tersebut tidak akan membawa perubahan. Hmmm agak jelimet juga nih. Saya mencoba membuat interpretasi lain terhadap pernyataan teoritis tersebut, “Orang-orang yang statis atau bertindak seperti kebanyakan orang tidak akan membawa perubahan“. Schumpeter berupaya melakukan investigasi terhadap dinamika di balik perubahan ekonomi yang diamatinya secara empiris. Singkat cerita, akhirnya beliau menemukan unsur eksplanatory-nya yang disebut “inovasi“. Dan aktor ekonomi yang membawa inovasi tersebut disebut entrepeneur. Jadi entrepreneur adalah pelaku ekonomi yang inovatif yang akan membuat perubahan. Hmmmm, begitulah “warisan” dari Om Schumpeter hehehe.

Austrian School, Mengutip Adaman dan Devine (2000), masalah ekonomi mencakup mobilisasi sosial dari pengetahuan yang tersembunyi (belum diketahui umum) yang terfragmentasi dan tersebar melalui interaksi dari kegiatan para entrepreneur yang bersiang. Hmmmmmm…… tambah bingung nih. Ada dua konsep utama disini yaitu pengetahuan tersembunyi (orang lain belum tahu) yang dikaji oleh Hayek dan kewirausahaan oleh Mises. Intinya mobilisasi sosial dari pengetahuan tersebut terjadi melalui tindakan entrepreneural. Dan seorang entrepreneur akan mengarahkan usahanya untuk mencapai potensi keuntungan dan dengan demikian mereka mengetahui apa yang mungkin atau tidak mungkin mereka lakukan. Oooohhh begitu toh, jadi artinya seorang entrepreneur itu harus selalu mengetahui pengetahuan (atau informasi) baru (dimana orang banyak belum mengetahuinya). Dan pengetahuan atau informasi baru tersebut dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan. Wah beda-beda tipis ya dengan schumpeter dengan konsep inovasinya. Kan dengan inovasi juga kita bisa mendapatkan pengetahuan, informasi, bahkan teknologi baru.

Penemuan pengetahuan tersembunyi merupakan proses perubahan yang berkelanjutan. Dan proses inilah yang merupakan titik awal dari pendekatan Austrian terhadap kewirausahaan. Ketika dunia dipenuhi ketidakpastian, proses tersebut kadang mengalami sukses dan gagal (hmmm memang begitu adanya ya hehehe). Namun seorang entrepreneur selalu berusaha memperbaiki kesalahannya. Wah kalo begitu sih, ternyata orang tua Saya sudah memahami Austrian Sholl ini dong. Buktinya mereka sering berkata:”Kegagalan itu adalah sukses yang tertunda”, “Belajarlah dari kesalahan”, atau “Hanya keledai lah yang terperosok dua kali” hehehe. Kasihan bener ya keledai :) Padahal “keledai” yang berjumpalitan beberapa kali (gagal dan gagal lagi) akhirnya bisa juga menemukan kesuksesan, itulah seorang entrepreneur.

Kirzerian Entrepreneur, Kirzer memakai pandangannya Misesian tentang “human action” dalam menganalisis peranan entrepreneural. Singkat kata, unsur entrepreneur dalam pengambilan keputusan manusia dikemukan oleh Om Kirzer ini lho. Wah beliau ini pasti setuju deh dengan jargon “the man behind the gun” ya hehehe. Menurut beliau, “knowing where to look knowledge”. Dan dengan memanfaatkan pengetahuan yang superior inilah seorang entrepreneur bisa menghasilkan keuntungan. Petuah lain dari beliau adalah “This insight is simply that for any entrepreneurial discovery creativity is
never enough: it is necessary to recognize one’s own creativity
“.

Sebenarnya masih banyak sih “petuah-petuah” beliau ini, terutama dikaitkan dengan teori-teori ekonomi sebelumnya, termasuk tanggapannya terhadap teori keseimbangan dari neo klasik. Tapi cukup sudahlah, toh mata kuliah entrepreneurship tidak akan terlalu berat di teori kok. Nanti mahasiswa pada protes lagi, “Pak kok belajar teori mulu nih, kapan kita bisa berlatih menjadi seorang entrepreneur nih!!”. Makanya di kelas kita lebih banyak berlatih bagaimana membuat proposal bisnis serta berlatih kreaivitas dan inovasi melalui penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (disain brosur, e-marketing, teknik presentasi, dll). Lagian, teori-teori di atas lebih banyak dikaitkan dengan teori ekonomi.

Teori Entrepreneur dari perspektif individu

Berikutnya saya tetap “maksa” untuk mengulas teori kewirausahaan dari perspektif individunya. Toh kuliah kewirausahaan di perguruan tinggi tidak hanya “melulu” soal praktek berwirausaha. Masa sih semua mahasiswa yang ikut kuliah kewirausahaan akhirnya menjadi entrepreneur semua (syukur juga sih kalo memang iya). Bisa saja sebagian diantaranya menjadi peneliti tentang kewirausahaan atau pengamat kewirausahaan hehehe. Jadi dengan sangat menyesal saya akan mencoba mengulas beberapa teori atau model yang dihubungkan dengan karakteristik individu seorang entrepreneur. Beberapa di antaranya adalah (1) life path change, (2) Goal Directed Behaviour, dan (3) Outcome expectancy.

Kenapa hanya tiga teori atau model tersebut? Memang ketiga model itulah yang tercantum dalam Satuan Acara Perkuliahan untuk Mata Kuliah Kewirausahaan. Sebagai dosen yang (masih berusaha) baik, saya kan harus manut kan dengan rambu-rambu dari universitas hehehe. <>

entrepreneurship

Purdi E Chandra - Primagama

Purdi E Chandra lahir di Lampung 9 September 1959. Secara “tak resmi” Purdi sudah mulai berbisnis sejak ia masih duduk di bangku SMP di Lampung, yakni ketika dirinya beternak ayam dan bebek, dan kemudian menjual telurnya di pasar.

Bisnis “resminya” sendiri dimulai pada 10 Maret 1982, yakni ketika ia bersama teman-temannya mendirikan Lembaga Bimbingan Test Primagama (kemudian menjadi bimbingan belajar). Waktu mendirikan bisnisnya tersebut Purdi masih tercatat sebagai mahasiswa di 4 fakultas dari 2 Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta. Namun karena merasa “tidak mendapat apa-apa” ia nekad meninggalkan dunia pendidikan untuk menggeluti dunia bisnis.
Dengan “jatuh bangun” Purdi menjalankan Primagama. Dari semula hanya 1 outlet dengan hanya 2 murid, Primagama sedikit demi sedikit berkembang. Kini murid Primagama sudah menjadi lebih dari 100 ribu orang per-tahun, dengan ratusan outlet di ratusan kota di Indonesia. Karena perkembangan itu Primagama ahirnya dikukuhkan sebagai Bimbingan Belajar Terbesar di Indonesia oleh MURI (Museum Rekor Indonesia).
Mengenai bisnisnya, Purdi mengaku banyak belajar dari ibunya. Sementara untuk masalah kepemimpinan dan organisasi, sang ayahlah yang lebih banyak memberi bimbingan dan arahan. Bekal dari kedua orang tua Purdi tersebut semakin lengkap dengan dukungan penuh sang Istri Triningsih Kusuma Astuti dan kedua putranya Fesha maupun Zidan. Pada awal-awal berdirinya Primagama, Purdi selalu ditemani sang istri untuk berkeliling kota di seluruh Indonesia membuka cabang-cabang Primagama. Dan atas bantuan istrinya pula usaha tersebut makin berkembang.
Kini Primagama sudah menjadi Holding Company yang membawahi lebih dari 20 anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang seperti: Pendidikan Formal, Pendidikan Non-Formal, Telekomunikasi, Biro Perjalanan, Rumah Makan, Supermarket, Asuransi, Meubelair, Lapangan Golf dan lain sebagainya.
Walaupun kesibukannya sebagai entrepreneur sangat tinggi, namun jiwa organisatoris Purdi tetap disalurkan di berbagai organisasi. Tercatat Purdi pernah menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) cabang Yogyakarta dan pengurus Kamar Dagang dan Industri Daerah (Kadinda) DIY. Selain itu Purdi pernah juga tercatat sebagai anggota MPR RI Utusan Daerah DIY. (sumber : www.purdiechandra.com)

Wawancara dengan Majalah BERWIRAUSAHA 22-09-200
Untuk jadi seorang entrepreneur sejati, tidak perlu IP tinggi, ijazah, apalagi modal uang. “Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja,” ungkap Purdi E Chandra, Dirut Yayasan Primagama.
Menurutnya, kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif saja sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya, orang yang oleh guru-guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru melejit jadi wirausahawan sukses.
“Masalahnya jika orang terlalu tahu risikonya, terlalu banyak berhitung, dia malah tidak akan berani buka usaha,” tambah ‘konglomerat bimbingan tes’ itu. Purdi yang lahir di Lampung 9 September 1959 memang jadi model wirausaha jalanan, plus modal nekad. la tinggalkan kuliahnya di empat fakultas di UGM dan IKIP Yogyakarta. Lalu dengan modal Rp.300 ribu ia dirikan lembaga bimbingan tes Primagama 10 Maret 1982 di Yogyakarta. Sebuah peluang bisnis potensial yang kala itu tidak banyak dilirik orang. la sukses membuat Primagama beromset hampir 70 milyar per tahun, dengan 200 outlet di lebih dari 106 kota. la dirikan IMKI, Restoran Sari Reja, Promarket, AMIKOM, Entrepreneur University, dan terakhir Sekolah Tinggi Psikologi di Yogyakarta.

Grup Primagama pun merambah bidang radio,penerbitan, jasa wisata, ritel, dll. Semua diawalkan dari keberanian mengambil risiko. Kini Purdi lebih banyak lagi ‘berdakwah’ tentang entrepreneurship. Bagi Purdi, entrepreneur sukses pastilah bisa menciptakan banyak lapangan kerja. Namun, itu saja tidak cukup berarti bagi bangsa ini. “Saya memimpikan bisa melahirkan banyak lagi pengusaha-pengusaha. Dengan demikian, makin banyak pula lapangan kerja diciptakan. Itulah Mega Entrepreneur,” ungkap Purdi kepada Edy Zaqeus dan David S. Simatupang dari Majalah BERWIRAUSAHA.
Berikut petikan wawancara yang berlangsung di kantor cabang Primagama Jakarta.
Bagaimana semangat wirausaha masyarakat kita?

Mungkin begini. Salahnya pendidikan kita itu, kebanyakan orang lulus sarjana baru cari kerja. Jadi pengusaha itu mungkin malah orang-orang yang kepepet. Yang tidak diterima di mana-mana, baru dia sadar dan bikin usaha sendiri. Mestinya, kesadaran seperti ini bisa untuk orang-orang yang tidak kepepet. Alasannya, kalau mau usaha harus ada modal, punya ketrampilan. Padahal tidak harus begitu. Saat yang tepat itu justru saat kita tidak punya apa-apa. Ibaratnya kalau kita punya ijazah pun, tidak usah dipikirin. Saya dulu tak tergantung dengan selembar kertas itu. Sekarang mau dijaminkan di bank juga tidak bisa. Hanya buat senang-senang saja kalau sudah sarjana.
Memang saya lihat pendidikan kita itu dari otak kiri saja. Padahal kalau kita garap yang kanan, porsinya banyak, maka otomatis otak kirinya naik. Tapi kalau kita banyakin kiri, kanan ndak ikut naik. Kanan itu adalah praktek. Saya bilang street smart.
Cerdas di lapangan, di jalanan. Orang yang akademik, sekolahnya pintar, IP atau nilai tinggi, dia tidak berani menentang teori. Jadi robotlah. Kalau di situ jadi topeng monyet. Dia tidak berani membuat kreasi sendiri. Padahal hidup dia itu bukan di masa lalu. Hidup dia itu kan di masa datang, dan itu serba berubah cepat. Tidak ada yang sama dengan teori yang dia pelajari. Teori itu kan hasil temuan. Kenapa kita tidak bisa menemukan sendiri? Saya punya contoh, manajemen di Primagama, yang tidak ada di teori. Kalau pun ada di teori pasti disalah-salahkan.
Apa itu?

Di Primagama, suami-istri bekerja dalam satu kantor itu malah kita anjurkan. Di lain tempat dan di teori itu ndak boleh! Tapi saya praktekkan, ternyata jalan, bagus. Saya melihat, mereka masing-masing bisa saling mengontrol. Maka, menantang teori itu yang utama. Saya malah bisa menaikkan omset Primagama 60%.

Contohnya lagi, iklan Primagama yang pakai aktor Rano Karno. Menurut orang kampus, dan pernah dibahas di sana, itu ndak bener! Menurut teori ndak benar. Tapi nyatanya, bagus hasilnya? Saya dulu pernah pakai Sarlito (pakar psikologi dan pendidikan:rec), malah ndak ada hasilnya, walau dia doktor atau apa. Jadi street smart itu…
Apa artinya street smart?

Cerdas di jalanan. Ada academic smart atau school smart. Tapi street smart itu cerdas dengan praktek. Jadi begini, kalau kita punya pengetahuan dengan benar, pengetahuan itu kan akademik. Kita tidak strong, gugur! Kita tidak akan bisa. Kita tidak akan bisa benar. Waktu SD itu ada bacaan-bacaan begini; “Ibu pergi ke pasar membeli sayur.” Kok tidak yang menjual sayur saja?

Kok kata-katanya selalu membeli, bukan menjual? Teryata setelah saya urut-urut, yang nulis itu guru. Coba kalau isinya diubah menjadi menjual, itu akan lain.
Kenapa tertarik menonjolkan sisi menjualnya?

Kalau saya bertransaksi, itu nilai tambah. Dalam transaksi, duit paling banyak itu kan pengusahanya? Dan paling banyak milik pengusaha. Coba kalau misalnya yang satu membeli saja. Akan terbatas transaksinya. Sehingga kalau memang harus banyak pengusahanya, ya untuk menjual.

Setuju dengan pemikiran Kiyosaki “If you want to be rich and happy, don’t go to school” ?
Kalau saya if you want to be rich and happy, ya…. Kalau ingin kaya, ngapain sekolah? Kalau di sekolah tidak akan happy dan kaya. Pendidikan kita tidak bikin happy, malah bikin stres anak. Porsi mainnya kurang. Sejak Taman Kanak-kanak sudah dipaksa main otak kiri. Mungkin itu karena dari mentrinya sampai orang-orang tuanya itu otak kiri semua, kan? Dikatakan figur yang bagus itu yang profesor, yang doktor. Padahal kalau kita pilah, yang pintar sekolah memang jadi dosen, jadi dokter. Yang sedang-sedang saja jadi manajer. Tapi yang bodo-bodo sekolahnya malah jadi pengusaha.

Penelitian di Harvard begitu. Penyikapan guru terhadap anak yang bodo kok divonis tidak punya masa depan? Mungkin dia berani, kreatif, bisa menemukan apa yang tidak ditemukan oleh anak-anak pintar.
Nah, pendidikan kita itu semua mau dijadikan ilmuwan. Seolah ngejar otak kiri saja, ngejar school smart saja.
Apa yang harus dilakukan untuk membongkar sistem seperti itu?

Memang berat karena dari dulu juga begitu. Maka harus lewat luar, kegiatan-kegiatan ekstra. Maka saya usulkan pendidikan kita dibuat dua sistem; sistem ijazah dan sistem tanpa ijazah. Kalau sekolah tanpa ijazah, orang akan cenderung cari ketrampilan dari praktek yang kelihatan. Yang pakai ijazah untuk yang mau jadi dosen, jadi dokter, jadi ilmuwan.

Kalau pelajaran kimia yang pakai ijazah, ya ilmuwan itulah. Kalau kimia yang tidak pakai ijazah, pilihannya ya bikin deterjen, bikin sirup, bikin apa saja yang ada manfaatnya. Kalau semua harus belajar kimia, padahal kita tidak tertarik, berarti dipaksa dan tidak happy jadi nya.Kalau di tataran konseptual, apa yang mesti dilakukan?

Saya kira Dikbud itu merasa bahwa yang menentukan masa depan Indonesia itu dia. Bikin kurikulum, walaupun sumbernya dari masyarakat, tapi sering terlambat. Kurikulum tahun lalu baru dipakai sekarang. Lebih cepat di luar, kan? Maka kalau saya, pendidikan itu tidak usah diatur. Perguruan Tinggi siapa pun boleh bikin. Dan itu masyarakat yang menilai. Hukum pasar! Titel MBA atau apa dilarang, kenapa? Alamiah aja. Nanti kalau kebanjiran itu orang ndak mau pakai, kan ndak masalah? Kalau banyak manajer belajar ilmu untuk mendapatkan MBA, itu kan bagus? Dalam pendidikan itu sebenarnya mereka dagang.
Kalau model-model pendidikan itu masyarakat yang mengembangkan, mungkin baru bagus. Karena pas dengan zaman itu. Misalnya Mc Donald mau bikin Universitas Mc Donald, kenapa tidak?
Bagaimana dengan Entrepreneur University yang Anda dirikan?

Sebagai entrepreneur, saya punya visi Mega Entrepreneur. Artinya bagaimana seorang pengusaha bisa menciptakan pengusaha lainnya. Kalau pengusaha bisa menciptakan lapangan kerja, itu sudah biasa. Yang saya kejar adalah bagaimana saya bisa menciptakan banyak pengusaha. Dulu visi saya memang menciptakan lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Kalau seperti itu kan lama. Mungkin hanya ribuan lapangan kerja. Tapi kalau bisa menciptakan banyak pengusaha, lapangan kerja yang tercipta lebih banyak lagi.
Karyawan saya pun saya usahakan bisa jadi pengusaha. Kayak manajer-manajer saya, semua sudah punya usaha di luar. Saya ditentang oleh Renald Kasali. Katanya menurut teori itu tidak bisa. ‘Orang kerja kok diajak merangkap jadi pengusaha, itu ndak bisa!’. Saya praktekkan ternyata bisa. Manajer saya punya perusahaan mebel.
Menurut Kiyosaki, di sini dia sebagai employee, di luar dia sebagai business owner karena yang mengelola orang lain. Ada manajer saya yang buka bengkel motor. Sopir saya punya kenteng mobil. Sopir saya yang lain punya bisnis jual bell handphone.
Karyawan-karyawan itu mau jadi manajer semua ? ndak mungkin kan…
Harapan paling besar saya, ya mereka jadi pengusaha.
Sejak kapan Entrepreneur University berjalan?

Entrepreneur University (EU) berjalan baru setahun. Sebelumnya kita sudah sering adakan pelatihan di mana-mana. Tapi cuma beberapa hari, lalu selesai tidak ada follow up. Sekarang lebih jelas, kita ada follow up. Misalnya kita adakan tiga bulan, setelah itu ada klub entrepreneur. Yang itu bisa dilakukan lewat internet, pertemuan-pertemuan, dan juga konsultasi seperti tadi. Di EU diutamakan yang indeks prestasinya (IP) rendah. Memang pernah ada yang protes, orang mau masuk tapi IP-nya tinggi, dia jadi minder. Tapi memang saya lebih mudah mengajar orang yang tidak pintar. Kalau otak kiri sudah kuat, susah berubahnya.
Misalnya dia kuliah di akuntansi, yang feasible tidak feasible, udah, ndak berani-berani dia. Usaha itu bukan perhitungan sebelumnya. Hitungan yang terjadi, itulah usaha. Banyak yang terjadi kita tidak tahu dan tidak kita pikirkan sebelumnya. Saya di Primagama dulu kalau dipikir tidak rasional. Modal saya cuma Rp.300 ribu saja. Sekarang asetnya sudah hampir Rp.100 milyar, kan?
Rasionalnya di mana?

Tadi seorang direksi bank yang ingin membuat usaha. Seperti dia, dihitung-hitung terus, selalu tidak positif. Akhirnya tidak berani buka usaha. Saya bilang, “Jangan dihitung terus!” Usaha itu dibuka, baru dihitung. Ini street smart. Kalau dihitung baru dibuka, ndak akan buka-buka usaha. Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang. Karena terang itu tahu hitung-hitungannya, tahu risikonya gedhe, jadi takut. Kalau gelap, tidak tahu apa-apa, usaha itu tidak takut. Dihitung atau tidak dihitung itu sama saja kok.
Padahal entrepreneur harus berani ambil risiko…

Itulah, ambil risiko itu berarti harus gelap. Maksudnya jangan terlalu banyak tahu. Setelah jalan, kita pakai ilmu street smart tadi. Street smart itu yang melahirkan kecerdasan entrepreneur yang dibutuhkan untuk pemula usaha. Isi kecerdasan entrepreneur itu ya kecerdasan emosional, spiritual, dan basisnya di otak kanan.
Bagaimana cara Anda merealisasikan gagasan Mega Entrepreneur?

EU ini saya yang buka dan pelatihannya saya yang mengajar sendiri. Saya bukan cari untunglah, tapi semacam aktulisasilah buat saya. Karena saya ingin jadi Mega Entrepreneur tadi. Sehingga saya bela-belain, ndak harus untung. Kalau nombokpun saya mau untuk memberikan dakwah tentang entrepreneurship ini. Itu yang saya lakukan, dan sudah dua angkatan EU di lima kota. Perkembangan pesertanya cukup positif. Yang sama sekali tidak berani berusaha, kini jadi berani.
Bagaimana tren kewirausahaan ke depan?

Saya kira itu suatu keharusan. Kalau negara ini mau maju, harus banyak pengusahanya. Kita belum ada kementrian yang khusus mengurusi wirausaha. Di Indonesia banyak bisnis yang bisa dikembangkan menjadi franchise dan tidak harus yang mahal. Di Malaysia sudah ada kementriannya, dan mentrinya mendorong mereka yang mau usaha franchise dsb.
Bagaimana entrepreneur yang ideal itu?

Ukuran ideal saya adalah dari banyaknya lapangan kerja yang diciptakan. Pengusaha yang bisa melahirkan pengusaha-pengusaha baru. Bisnisnya kalau bisa yang baik-baiklah. Saya suka mengurusi bisnis yang langsung ke pasar. Yang menilai dan menentukan bisnis saya ya pasar. Saya ndak model dengan bisnis lobi-lobi yang harus berhubungan dengan pemerintah.Pernah mengalami pencerahan selama menjadi entrepreneur?

Saya mengembangkan sisi spiritual melalui dzikir atau meditasi. Bisnis itu, kalau bisa ya melibatkan yang “di atas”. Tidak bisa berjalan dengan diri kita sendiri. Maka saya kembangkan kecerdasan spiritual. Kalau menggunakan intuisi saja, hanya bisa menunjukkan sesuatu tujuan itu seperti apa…. Tapi kalau dzikir, melibatkan Tuhan, kuncinya justru membuat tujuan itu terjadi.
Misalnya diramal orang kita tidak hoki. Dengan dzikir itu bisa jadi hoki. Yang tidak baik jadi baik. Arah negatif bisa jadi positif. Maka, menantang teori itu yang utama! Makanya, yang membuat orang takut itu bukan sisi gelap, tapi justru sisi terang.
Bangkit

Wujudkanlah mimpi anda, kembangkanlah “penglihatan pemikiran” yang selama ini terpendam, berikanlah arti pada hidup yang anda cintai ini. Semuanya berawal dari sebuah impian. Dunia dengan segala isinya diciptakan Tuhan dari “impian-Nya”.
Kisah-kisah keberhasilan para tokoh yang berhasil mengubah dunia, bermula dari mimpi, seperti apa yang dilakukan Galiileo, Thomas Alva Edison, Einstein, dan lain-lain. Bangunan-bangunan besar seperti candi dan piramid juga dimulai dari impian. Bahkan, majalah ini hingga akhirnya sampai ke tangan pembaca, juga diawali dari impian. Bila demikian, tampaknya segala sesuatu sangatlah mungkin untuk diwujudkan. Masalahnya adalah kebanyakan orang telah membuang jauh-jauh mimpi mereka ke tempat sampah, atau merasa bahwa mimpi mereka merupakan hal yang mustahil. Padahal, hampir semua mimpi bisa diwujudkan dengan sedikit kecerdikan, sedikit keberanian serta dukungan emosional.
Sebagai ilustrasi, pertengahan tahun 70-an Bill Gates bermimpi bahwa komputer akan tersedia di setiap rumah pada suatu masa nanti; Akio Morita bermimpi is bisa mendengarkan musik favoritnya sambil main tenis, tanpa harus mengganggu tetangga kiri-kanan; atau Sosrodjoyo yang bermimpi nantinya orang-orang akan memilih teh botol bikinan pabrik daripada repot-repot menyeduhnya di rumah.
Tetapi perlu kiranya dibedakan antara “mendambakan” dan “memimpikan”. Mendambakan bersifat pasif dan menunggu, hanya merupakan selingan iseng tanpa otak, tanpa upaya untuk mewujudkannya. Sedang memimpikan bersifat aktif dan berani mengambil inisiatif. la didukung oleh rencana dan tindakan untuk membuahkan hasil.
Tokoh-tokoh yang disebut di atas adalah contoh perbuatan memimpikan. Mereka tidak sekadar beranganangan, melainkan berupaya keras mewujudkan impiannya. Microsoft, Sony, dan Teh Sosro adalah hasil nyata dari mimpi-mimpi mereka.
Singkatnya, penglihatan pikiran membuka pintu untuk mewujudkan impian kita. Namun begitu pintu tersebut terbuka, harus ada tindakan nyata berupa: disiplin, kebulatan tekad, kesabaran, dan ketekunan bila kita ingin membuat impian tersebut menjadi kenyataan.
Penglihatan Pikiran

Pada hakikatnya setiap insan memiliki dua jenis penglihatan: penglihatan mata dan penglihatan pikiran. Penglihatan mata adalah apa yang kita lihat ada secara fisik di sekeliling kita, misalnya: mobil, gunung, pulpen atau teman-teman kita. Sebaliknya, penglihatan pikiran adalah sebuah kekuatan untuk melihat bukan apa yang ada secara fisik, tetapi apa yang bisa ada setelah intelegensia manusia diterapkan. Penglihatan pikiran adalah kekuatan untuk bermimpi.
Dr. David Schwartch, dalam The Magic of Thinking Success, yakin bahwa perasaan kita yang paling tak ternilai harganya adalah penglihatan pikiran. Penglihatan tersebut membentuk gambaran masa depan yang kita harapkan, rumah yang kita idamkan, hubungan keluarga yang kita dambakan, liburan yang akan kita ambil, atau penghasilan yang akan kita nikmati kelak (sumber : www.purdiechandra.com)

sumber url : http://www.bisnisentrepreneur.blogspot.com/

TEORI MOTIVASI

1. Teori Kebutuhan dengan asumsi: semua orang sama, semua situasi sama, dan selalu ada "satu cara terbaik"

1.1. Teori Hierarkhi Kebutuhan Maslow - Manusia Piramida

Abraham H. Maslow mendaftarkan 5 (lima) jenis kebutuhan manusia dari yang terendah hingga yang tertinggi:

1. Kebutuhan fisiologis 2. Kebutuhan akan rasa aman 3. Kebutuhan sosial 4. Kebutuhan status 5. Aktualisasi diri

1.2. Teori ERG Clayton Alderfer - Manusia Tiga Tingkat

Teori ini membagi kebutuhan hanya menjadi 3 (tiga) tingkat :

1. Kebutuhan Existence kebutuhan fisiologis dan rasa aman (dua tingkat pertama Maslow) 2. Kebutuhan Relatedness kebutuhan sosial dan struktur sosial (tingkat 3 Maslow) 3. Kebutuhan Growth kebutuhan pengembangan diri (tingkat 4 dan 5 Maslow)

2. Teori Perilaku Manusia Tikus

Teori ini mengamati pelbagai perilaku orang yang memang diasumsikan bisa diukur :

1. Jika seseorang memperoleh apa yang diinginkan, maka "penghargaan positif meningkatkan kinerja" (R+) 2. Jika seseorang menghindari apa yang tidak diinginkan, maka "penghargaan negatif meningkatkan kinerja" (R ) 3. Jika seseorang memperoleh apa yang tidak diinginkan, maka "hukuman menurunkan kinerja" (P+) 4. Jika seseorang tidak memperoleh apa yang diinginkan, maka "ancaman pemecatan menurunkan kinerja" (P )

2.1. Teori Efek Thorndike Manusia Pencari Kesenangan

Teori ini menyatakan bahwa jika yang dilakukan seseorang menyenangkan, ia akan lebih sering melakukannya; jika perilakunya buruk, ia pasti tidak akan mengulanginya. Jadi perilaku akan semakin melekat pada diri seseorang apabila:

1. Kesenangan atau kepedihan muncul seketika akibat suatu perilaku. 2. Kesenangan atau kepedihan tersebut terjadi berulang ulang. 3. Kesenangan atau kepedihan tersebut benar-benar dirasakan oleh orang tersebut.

2.2. Teori Analisis Transaksional Eric Berne Manusia Bermental Transaksi

Teori ini menyatakan bahwa salah satu motivator paling mendasar dan paling kuat bagi manusia adalah dihargai secara positif; menerima pengakuan pribadi dari orang lain. Seseorang membutuhkan "rangsangan" dari orang lain agar merasa puas secara emosional dan psikologis. Jika rangsangan positif tidak diberikan, mereka yang haus akan rangsangan ini akan semakin sulit diatur dan mengganggu hanya untuk mencari perhatian. Bahkan rangsangan negatif lebih baik dari pada diabaikan atau tidak menerima rangsangan sama sekali.

2.3. Teori Tujuan Manusia Bermental Sepak Bola

Teori ini menyatakan bahwa mencapai tujuan adalah sebuah motivator. Hampir setiap orang menyukai kepuasan kerja karena mencapai sebuah tujuan spesifik. Saat seseorang menentukan tujuan yang jelas, kinerja biasanya meningkat sebab:

• Ia akan berorientasi pada hal hal yang diperlukan • Ia akan berusaha keras mencapai tujuan tersebut • Tugas tugas sebisa mungkin akan diselesaikan • Semua jalan untuk mencapai tujuan pasti ditempuh

Bawahan harus menyetujui dan menerima tujuan itu. Bila mereka berpikir sebuah tujuan terlalu sulit atau tidak penting, ia tidak akan ter-motivasi untuk mencapainya.

2.4. Teori Kelompok Manusia Sosial

Teori ini menyatakan bahwa suatu kelompok kerja cenderung menerapkan norma norma produksi mereka sendiri, dan memastikan anggota baru mereka untuk mengikuti aturan yang dibuat kelompok ter-sebut. Untuk melakukan hal ini, kelompok biasanya memakai beragam mekanisme sosial agar anggota baru tidak berproduksi secara berlebihan atau kurang.

2.5. Teori Dua Faktor Manusia Berkembang

Teori ini menyatakan bahwa "kepuasan" dan "ketidakpuasan" adalah dua vektor yang berbeda. Seseorang dapat menghindari ketidakpuasan, tetapi hal ini belum tentu memberi kepuasan.

Pemuas : Pekerjaan menarik, Pekerjaan menantang, Kesempatan berprestasi, Penghargaan, Promosi jabatan.

Faktor Darurat: Gaji, Pengawasan, Kondisi kerja, Keamanan kerja, Status.

3. Teori Proses dengan asumsi:

• Perilaku ditentukan oleh pelbagai macam factor • Setiap orang memutuskan sendiri perilaku mereka dalam organisasi • Setiap orang memiliki jenis kebutuhan, keinginan, dan tujuan yang berbeda beda dengan orang lain • Setiap orang memilih rencana perilaku berdasarkan persepsi (harapan) seberapa jauh perilaku tersebut akan mencapai hasil yang diharapkan

3.1. Model Teori Lawler Manusia Pengharap

Teori ini menyatakan. bahwa bawahan harus diarahkan pada peng-hargaan di masa yang akan datang, dari pada belajar dari masa lalu. Bila mereka melihat kemungkinan adanya penghargaan berdasarkan usaha mereka itu, mereka akan semakin bekerja keras, kinerja meningkat dan penghargaan pun diberikan. Akibatnya, hal ini memberi kepuasan yang meningkatkan usaha.

4. Teori Kecenderungan dengan asumsi:

• Setiap orang berbeda • Kepribadian berdampak pada motivasi • Setiap orang memiliki kebutuhannya sendiri sendiri

4.1. Teori Tiga Kebutuhan McClelland - Manusia Prestasi

Teori ini menyatakan bahwa bawahan menginginkan 3 (tiga) hal dari pekerjaannya:

• Prestasi (need of achievement) - n-Ach • Kekuasaan (need of power) - n-Power • Perhatian (need of affection) - n-Aff

4.2. Teori Percaya Diri Manusia Yang Membatasi Diri

Teori ini menyatakan bahwa bawahan hanya dapat berhasil mencapai target yang mereka yakini dapat mereka capai.

4.3. Teori Keadilan J. Stacy Adam Manusia Adil

Teori ini menyatakan bahwa ketika kita membandingkan dengan orang lain dan kita merasa lebih buruk. Kita melihat situasi kita sebagai kurang adil. Bukan hanya merasa frustrasi, motivasi pun terpengaruh. Ada dua kemungkinan tanggapan:

• Mengurangi usaha sehingga penghargaan tampak adil (menurunkan motivasi) • Berusaha meningkatkan penghargaan/pendapatan (meningkat-kan motivasi)

Bila itu tidak mungkin, kita menghapus kekecewaan dengan meng-undurkan diri dari organisasi tsb.

4.4. Teori Valensi Manusia Penjudi

Teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung membuat pilihan dan mengambil resiko yang tersedia. Ia akan memilih perilaku yang akan memberinya hasil terbaik sesuai dengan apa yang diinginkan. Teori ini memungkinkan seseorang membuat keputusan secara sadar. Ada 3 (tiga) elemen penting:

• Hasil akibat apa yang mungkin timbul dari suatu perilaku • Valensi seberapa baik atau menarikkan hasil tersebut? • Harapan jika saya lakukan hal ini, akankah saya memperoleh hasil itu?

4.5. Teori X dan Y Donald McGregor – Manusia Baik dan Jahat

Teori ini menyatakan bahwa cara pandang seorang pemimpin akan mempengaruhi caranya memotivasi bawahan.


TEORI X – pemimpin menganggap bawahan :

• Membenci pekerjaannya • Membenci tanggung jawab • Tidak terlalu berambisi • Tidak mempunyai gagasan • Tidak mampu menyelesaikan masalah • Hanya memikirkan uang • Perlu dikendalikan secara ketat • Pemalas dan tidak dapat dipercaya

sehingga pemimpin tersebut akan memotivasi dengan cara cara berikut:

 Mengatakan dengan jelas apa yang harus dilakukan, kapan dan bagaimana melakukannya  Melakukan pengawasan secara ketat  Membuat semua keputusan seorang diri  Tidak menghendaki adanya partisipasi  Penghargaan hanya dalam bentuk gaji  Mengharapkan kontribusi minimum

TEORI Y pemimpin menganggap bawahan:

• Menikmati pekerjaannya • Bersedia memberi kontribusi • Bersedia menerima tanggung jawab • Dapat membuat keputusan bagi diri sendiri • Mampu menanggulangi masalah masalah • Mampu membuat rencana rencana jangka panjang dan mencapainya

sehingga pemimpin tersebut akan memotivasi dengan cara cara berikut:

 Memberi tanggung jawab  Memberi kesempatan untuk membuat keputusan atas pekerjaan  Memberi mereka kesempatan memberikan saran-saran dan menjalankannya  Memberi penghargaan dengan cara lain, bukan hanya dengan uang