Abstract: Era otonomi dewasa ini, baik otonomi daerah maupun otonomi pendidikan, diperlukan sumber daya manusia yang berkarakter: ulet, kreatif, inovatif, pekerja keras, mempunyai keberanian untuk mengambil keputusan secara mandiri, optimis, berorientasi ke depan, dan bermoralitas tinggi. Universitas Negeri Malang sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menyiapkan sumber daya manusia (mahasiswa) masa depan selayaknya juga ikut mengambil bagian dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkarakter tersebut. Karakter tersebut ada pada diri seorang entrepreneurship (wirausahawan).
Kata Kunci: motivasi belajar, analisis kebutuhan, motivasi berprestasi, mahasiswa.
Teori-teori motivasi berpendapat bahwa tingkah laku itu pada dasanya mengarah pada pencapaian suatu tujuan tertentu. Filosof mekanistik beranggapan bahwa tingkah laku itu merupakan dorongan yang tumbuh dari dalam dimana orang tidak mampu mengendalikannya (Budiyanto, 1998).
Motif tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan fisik saja tetapi berhubungan dengan harga diri, pengakuan masyarakat dan sebagainya yang sering disebut dengan istilah motif sosial. Apa yang terjadi pada dunia entrepreneurship cenderung merupakan perpaduan dari kedua motif tersebut (Budiyanto, 1998).
Orang yang cenderung motif berkuasanya tinggi lebih cocok menjadi manajer eksekutif (pengelola), sedangkan yang motif afiliasinya tinggi lebih tepat menjadi public relation atau pekerja sosial, sedangkan dalam entrepreneurship lebih dibutuhkan bagi mereka yang memiliki motivasi kebutuhan berprestasi yang tinggi karena pada dirinya memiliki dorongan untuk meningkat yang tinggi. Bahkan, McClelland (1974) menyatakan bahwa motif berprestasi merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ekonomi.
Ardana 1990 (dalam Munawaroh 2008) menyatakan bahwa tingkat motivasi dinyatakan dalam ketekunan, keuletan, daya tahan, keberanian menghadapi tantangan, kegairahan dan kerja keras.
Munawaroh (2008) menyatakan bahwa tingkat motivasi belajar pada dasarnya merupakan keseluruhan daya penggerak psikis siswa yang menumbuhkan gairah, rasa senang, dan semangat dalam belajarnya. Motivasi ini memiliki ciri-ciri ketekunan, keuletan, daya tahan, keberanian menghadapi tantangan, kegairahan, dan kerja keras yang pada gilirannya dapat meningkatkan perolehan belajarnya.
Entrepreneur itu lazimnya memiliki motivasi berprestasi yang tinggi. Orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi dipandang cocok untuk menjadi seorang wirausahawan. Dengan kata lain, di era otonomi ini sangat diperlukan orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi agar mereka dapat hidup (survive) dalam persaingan untuk dapat bertahan hidup dan melangsungkan kehidupan, agar mereka dapat menghidupi di dunia yang mereka huni.
Apapun profesinya sangat memerlukan sikap mental sebagai entrepreneur. Seorang guru misalnya, ia perlu mempunyai keberanian untuk mengembangkan pembelajaran yang inovatif, mereka perlu memiliki keuletan untuk terus berupaya mengatasi berbagai masalah pembelajaran dan pendidikan yang mereka hadapi sehari-hari. Guru-guru dan sumber daya manusia lain yang profesional diperlukan untuk masa depan. Salah satu ciri-ciri keprofesionalan seseorang di antaranya adalah mereka mau dan mampu mengembangkan dunia yang menjadi bidangnya sehari-hari. Untuk mau dan mampu mengembangkan dunianya tersebut mereka perlu memiliki ciri-ciri pribadi yang berani, kreatif, inovatif, pekerja keras, ulet dan mandiri. Mereka memiliki sifat sebagai seorang entrepreneur.
Masalahnya adalah ada gejala-gejala yang tampak pada generasi muda dalam hal ini mahasiswa bahwa banyak diantara mereka yang suka mengambil jalan pintas dan kurang menampakkan keuletan mereka. Ada saja diantara mahasiswa yang suka menyontek, menjiplak karya orang lain, kurang disiplin, kemauan kerjanya rendah, daya kreasi dan inovasinya rendah, berorientasi pada jangka pendek, motivasi belajarnya rendah. Keadaan ini sangat berlawanan dengan tuntutan dunia masa kini, tuntutan otonomi daerah, otonomi pendidikan yang memang memerlukan pribadi-pribadi yang berperilaku sebagai entrepreneur.
Teori-teori tentang motivasi banyak dipelajari dalam ranah studi psikologi dan manajemen. Teori ini berkaitan dengan perilaku individu, kedua ranah studi tersebut memang berkaitan dengan perilaku individu. Salah satu tokoh yang cukup dikenal adalah Abraham Maslow. Ia adalah pionir dari aliran psikologi humanistik. Teorinya yang cukup terkenal adalah mengenai Theory of Hierarchy Needs. Menurutnya, manusia memunculkan suatu perilaku didasarkan pada kebutuhan yang ada.
Dalam teori motivasi Maslow (1954) dinyatakan bahwa perilaku seseorang itu ditentukan oleh motivasinya. Motivasi seseorang ditentukan oleh pemenuhan kebutuhan pokoknya (basic need). Kebutuhan pokok seseorang terdiri atas kebutuhan-kebutuhan yang secara hierarkis dari rendah ke tinggi mencakup: fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta/kasih sayang, penghargaan diri, dan aktualisasi diri. Kebutuhan yang lebih tinggi baru akan terpenuhi kalau kebutuhan yang lebih rendah sudah terpenuhi.
Maslow berargumen bahwa seseorang tidak akan mencapai tingkat kebutuhan yang lebih tinggi sebelum tercapai kebutuhan yang di bawahnya. Misalnya, seseorang akan sulit mendapatkan kebutuhan akan cinta kalau kebutuhan fisiologisnya belum tercapai. Begitu seterusnya hingga sampai kebutuhan aktualisasi diri. Namun dalam penelitian selanjutnya ternyata ada individu yang tidak begitu saja harus membutuhkan kebutuhan di bawahnya sebelum meraih kebutuhan yang di atasnya. Penelitian mengenai peak-experience terhadap orang-orang yang memiliki pengalaman spiritual seperti Mahatma Gandhi, Bunda Theresa, yang kemudian memfalsifikasi teori tersebut. Orang-orang semacam Gandhi atau Theresa yang langsung mencapai tingkat aktulaisasi diri tanpa melalui strata kebutuhan yang di bawahnya.
Sementara motivasi berprestasi (achievement motivation) merupakan teori yang dikenalkan oleh David McClelland. Dasar teorinya tetap berdasarkan teori kebutuhan Maslow, namun ia mencoba mengkristalisasinya menjadi tiga kebutuhan yaitu: Need for Power (nPow), Need for Affiliation (nAff), Need for Achievement (nAch).
Dalam membangun teorinya ini ia mengajukan teori kebutuhan motivasi yang dipelajari yang erat hubunganya dengan konsep belajar. Ia percaya bahwa banyak kebutuhan yang didapatkan dari kebudayaan suatu masyarakat. Untuk melihat motivasi berprestasi ini ia menggunakan metode pengetesan dengan tes TAT (Thematic Apperception Test). Tes ini merupakan tes proyektif yang menggunakan analisa terhadap seseorang dari gambar-gambar untuk mengetahui perbedan individual (Gibson, et.al., 1996). Tes ini dikembangkan oleh seorang psikolog Henry Murray dari klinik Psikologi Harvard, AS tahun 1943 (Groth-Marnat, 1984).
Berdasarkan penelitian di bidang kewirausahaan Mc.Clelland (1961, dan Syaodih, 1983) menyimpulkan beberapa karakteristik dari motif berprestasi yang tinggi yaitu (1) mencari dan memiliki tingkat tanggung jawab pribadi yang tinggi, (2) berani mengambil risiko, (3) memiliki tujuan yang tinggi tetapi realistik, (4) mengembangkan rencana yang menyeluruh untuk merealisasikan tujuan, dan (5) mencari kesempatan untuk merealisasikan rencana yang telah disusun.
Penelitian tentang pelatihan dan motivasi terhadap produktivitas tenaga kerja pada Unit Kerja Kredit Bank Jabar yang dilakukan oleh Ragam Santika (1995) menunjukkan bahwa (1) pelatihan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja sebesar 14,69 %, dan (2) secara bersama-sama pelatihan dan motivasi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja sebesar 16,56% .
Sebuah penelitian tentang peranan motivasi berprestasi dan risiko dalam pilihan karier atau jabatan (ocupational choice) menunjukkan bahwa kemauan untuk mandiri dan sukses lebih penting bagi wirausahawan, sedangkan pilihan pengambilan risiko secara individual tidak signifikan dalam menjelaskan pilihan karier kewirausahaan (Tucker, 1988).
David McClelland (1987) melihat bahwa ramuan esensial untuk terbentuknya tingkah laku kewirausahaan adalah motivasi berprestasi. Faktor Motivasi, seperti yang dikatakan Abraham Maslow (1954), McClelland (1987) dan McClelland & Peter A Turla (1993) mempunyai pengaruh yang besar terhadap perilaku untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan yang lebih luas dan selanjutnya akan mempengaruhi pola pikir dan tindakannya (Soehartono, 1995). Dorongan dalam diri merupakan faktor penting bagi wirausaha khususnya wirausaha pemula (Siman, 1997).
Penelitian yang dilakukan sekolah kejuruan di North Dakota yang mengajarkan pelajaran kewirausahaan pada tahun 1994-1995 menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan pada sekolah menengah dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman konsep kewirausahaan dan mengenalkan kepada siswa suatu model wirausahawan yang berhasil. Sementara itu, pengajaran yang dipandang efektif adalah dengan menggunakan metode mengajar yang mendorong kreativitas, individualitas, dan mendapatkan pengalaman kerja (Wood, 1995).
Kebutuhan akan rasa aman akan terpenuhi kalau kebutuhan fisiologisnya sudah terpenuhi, kebutuhan akan cinta terpenuhi kalau kebutuhan fisiologis dan keamanan sudah terpenuhi, kebutuhan harga diri akan terpenuhi kalau kebutuhan fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta sudah terpenuhi, dan kebutuhan akan aktualisasi diri akan terpenuhi kalau kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan memiliki, dan penghargaan diri sudah terpenuhi.
Demikian halnya dengan motivasi belajar mahasiswa. Jika ditelusuri terjadinya motivasi belajar, bisa juga didorong oleh kebutuhan-kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan diri, dan perwujudan diri. Orang-orang mempunyai motivasi belajar yang tinggi ataupun rendah, jika mengacu pada teori motivasinya Maslow, maka orang yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi ataupun rendah adalah dalam kerangka memenuhi kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, penghargaan diri, dan aktualisasi diri.
Seseorang yang motivasi untuk mengaktualisasikan dirinya tinggi biasanya motivasi berprestasinya tinggi. Orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi sangat cocok untuk menjadi seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur akan selalu siap menghadapi berbagai tantangan hidupnya, ia mempunyai karakteristik: keberanian yang tinggi, kreatifitas dan daya inovatifnya sangat tinggi, ia seorang yang sangat ulet, tangguh, kokoh, dan mandiri. Ia merupakan pribadi yang otonom dan tepat untuk hidup di era otonomi dalam berbagai bidang kehidupan. Karakteristik entrepreneur itu perlu dimiliki oleh mahasiswa termasuk mahasiswa Universitas Negeri Malang.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, dan teori motivasi Maslow, maka peneliti berupaya mendeskripsikan seperti apa motivasi mahasiswa Universitas Negeri Malang sebagai sumber daya manusia masa depan, baik motivasi dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki dan cinta, penghargaan diri, dan perwujudan dirinya. Dengan diketahuinya motivasi mahasiswa tersebut maka dapat dilakukan analisis kebutuhan untuk peningkatan motivasinya dalam kerangka menumbuhkan semangat entrepreneurship yang sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang kehidupan.
Tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: mendeskripsikan gambaran motivasi berprestasi mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi responden penelitian ini, mendeskripsikan kebutuhan apa yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi berprestasi mahasiswa Universitas Negeri Malang.
METODE
Penelitian ini dirancang dengan rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Masalah penelitian ini adalah bagaimana motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi responden penelitian ini dan analisis kebutuhan apa yang diperlukan untuk meningkatkan motivasi belajar mahasiswa tersebut.
Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari kuesioner yang dikembangkan Maslow yang diadaptasi oleh Budiyanto (1998) untuk keperluan AMT untuk aplikatif dalam program penanggulangan pekerja terampil yang diselenggarakan oleh Koperasi Bakti Mandiri Kadinda Kodya Bandung 1998, kemudian peneliti adaptasi dan kembangkan lagi menjadi kuesioner untuk mengungkap motivasi belajar mahasiswa. Landasan teoretik yang peneliti gunakan tetap menggunakan teori motivasi Maslow.
Landasan teoritis penelitian ini menggunakan teori motivasi Maslow, oleh karena itu, deskripsi motivasi belajar dimaksud terfokus pada seperti apa kebutuhan-kebutuhan: fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta/kasih sayang, penghargaan diri, dan perwujudan diri responden penelitian ini. Setelah motivasi belajar mahasiswa dideskripsikan kemudian dilakukan analisis dengan melakukan need accessment untuk peningkatan motivasi belajar mahasiswa.
Responden penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi peserta pelatihan motivasi belajar yang diselenggarakan LP-3 Universitas Negeri Malang pada tanggal 27-30 Agustus 2008 sebanyak 74 peserta. Dari 74 responden tersebut secara terperinci terdapat: 14 mahasiswa berasal dari FIP, 20 mahasiswa dari FMIPA, 13 mahasiswa dari FT, 16 mahasiswa dari FS, dan 11 mahasiswa dari FE.
Penentuan responden ini tidak dimaksudkan sebagai sampel yang benar-benar mewakili mahasiswa Universitas Negeri Malang dan untuk keperluan generalisasi, tetapi sekedar contoh kecil yang menggambarkan motivasi belajar mereka untuk mendapatkan perhatian. Perlu disampaikan di sini bahwa keterlibatan mereka menjadi peserta berdasarkan undangan dari LP-3. sedangkan peserta berasal dari berbagai fakultas dan unit kegiatan mahasiswa yang ada di Universitas Negeri Malang dan mereka yang secara sukarela mendaftarkan diri ke LP-3.
Data dikumpulkan dengan menggunakan angket. Responden diberikan angket yang berisi pernyataan-pernyataan motivasional yang sesuai dengan dirinya. Substansi isi angket mengacu pada teori motivasi Maslow yang mengungkap tingkat motivasi belajar mahasiswa yang terfokus pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis, keamanan, memiliki dan cinta/kasih sayang, penghargaan diri, dan perwujudan diri. Masing-masing fokus kebutuhan tersebut terdiri atas 5 item sehingga jumlah seluruh item dalam angket ada sebanyak 25 item. Angket ini tidak divalidasi terlebih dahulu, akan tetapi diadaptasi dari angket yang sudah teruji, dan secara kualitatif dapat ditelaah validitasnya.
Setelah responden mengisi angket di tempat pelatihan (Gedung Aula A-3 lantai II), responden diminta untuk mengoreksi sendiri terhadap pernyataan-pernyataan motivasionalnya dengan memasukkan pada lembar kerja yang sudah disediakan. Dari lembar kerja tersebut dapat diketahui tingkatan motivasi belajar mahasiswa dan kecenderungan-kecenderungan motivasionalnya.
Langkah berikutnya adalah lembar kerja yang sudah diisi responden tersebut kemudian dikumpulkan oleh peneliti, dilakukan tabulasi, dan dilakukan analisis rata-rata (%) kecenderungan motivasional belajar responden. Dari hasil kecenderungan motivasional responden tersebut, kemudian dilakukanlah analisis kebutuhan (need accessment) untuk peningkatan motivasi belajar mahasiswa.
Untuk menentukan tinggi rendahnya motivasi belajar mahasiswa dalam penelitian ini, digunakan kriteria pada tabel 1.
Tabel 1. Kriteria Nilai yang Dicapai Responden
| Nilai Rata-Rata Motivasi yang Dicapai Responden | Kriteria |
| 0-5 | Sangat Rendah |
| 6-10 | Rendah |
| 11-15 | Sedang |
| 16-20 | Tinggi |
| 21-25 | Sangat Tinggi |
HASIL
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Fisiologis
Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) mahasiswa yang telah mengerjakan tugas perkuliahannya dengan sangat baik seharusnya mendapatkan hadiah yang berupa uang; (2) pada saat perkuliahan seorang dosen hendaknya memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk membawa dan berbagi makanan di kelas; (3) pemberian rangsangan berupa pemberian hadiah material (uang, buku, kamus, biaya pondokan) terhadap mahasiswa yang berhasil akan membantu mahasiswa untuk lebih berhasil lagi di kemudian hari; (4) menganggap penting akan tersedianya peralatan perkuliahan yang lengkap; dan (5) prestasi akan lebih baik apabila diberi bantuan laptop sehingga dengan mudah dapat mengakses berbagai informasi melalui internet di kampus secara gratis.
Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 15,2% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Keamanan
Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) uraian yang sangat rinci dan jelas akan lebih membantu mahasiswa mengetahui mengetahui lebih tepat terhadap apa yang diharapkan mahasiswa; (2) hasil perkuliahan mahasiswa tidak begitu menentukan masa depannya sebab yang lebih menentukan adalah nama besar almamater Universitas Negeri Malang yang selama ini tidak diragukan lagi; (3) dana untuk pembuatan skripsi hendaknya dipersiapkan sejak awal agar mahasiswa tidak mengalami kesulitan ketika menyelesaikan skripsi atau studinya; (4) perkuliahan hendaknya diorientasikan untuk menjadi seorang pegawai negeri karena pegawai negeri akan mendapatkan dana pensiun; (5) Kuliah dapat menjadi sarana untuk memilih pacar yang mempunyai masa depan yang lebih baik.
Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 14,70% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong pada kategori sedang.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Memiliki dan Cinta/Kasih Sayang
Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan terhadap cinta dan memiliki rasa kasih sayang, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) seorang dosen harus berusaha sekeras-kerasnya untuk menciptakan dan membina suasana perkuliahan yang hangat serta ramah dengan mahasiswanya; (2) pengawasan yang ketat dalam ujian sebaiknya dihindari karena hal tesebut seringkali dapat menyinggung perasaan mahasiswa; (3) seorang ketua jurusan harus menunjukkan perhatiannya kepada mahasiswa dengan jalan mengadakan pertemuan-pertemuan yang bersifat sosial di sela-sela jam kerja; (4) kualitas hubungan dalam kelompok-kelompok mahasiswa secara tidak resmi merupakan sesuatu yang penting sekali; dan (5) tujuan ke kampus adalah untuk memperoleh teman yang lebih banyak.
Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan memiliki dan cinta/rasa kasih sayang, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 17,33% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong pada kategori tinggi.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Penghargaan Diri
Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) pemberian tanda penghargaan terhadap hasil belajar adalah sangat berarti bagi seorang mahasiswa; (2) pada umumnya setiap mahasiswa ingin sekali merasakan bahwa kecakapannya dapat dimanfaatkan untuk membantu teman mahasiswa lainnya; (3) ingin merasakan bahwa saya adalah yang paling unggul dalam perkuliahan; (4) mahasiswa senantiasa ingin mendapatkan penghargaan dari dosennya; dan (5) rasa malu digunjingkan orang lain karena tidak segera lulus dalam waktu yang lama adalah hal yang penting bagi mahasiswa.
Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 19,06% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi.
Deskripsi Motivasi Mahasiswa yang Berorientasi pada Kebutuhan Aktualisasi Diri
Motivasi mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan perwujudan diri, diidentifikasi dari pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tentang: (1) semua tugas-tugas perkuliahan seharusnya lebih menantang, baru, dan menarik; (2) banyak mahasiswa yang ingin menyumbangkan ide-ide barunya untuk memperbaiki proses perkuliahan yang dilaksanakannya; (3) kebanggaan mahasiswa atas pencapaian prestasinya sebenarnya merupakan imbalan yang sangat penting; (4) lebih senang mengatur sendiri urusan perkuliahan yang hendak dilakukan dan membuat sendiri keputusan-keputusan yang sehubungan dengan perkuliahan dengan pengawasan dari dosen sedikit saja; dan (5) membuat target lulus yang cepat dengan indeks prestasi tinggi merupakan sesuatu yang penting bagi mahasiswa.
Berdasarkan pertanyaan diatas, setelah mahasiswa diminta untuk memberikan penilaian dengan skor berkisar 1-5 setiap itemnya, maka motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri, dari 74 responden rata-rata mencapai nilai 18,77% dari skor maksimal rata-rata 25. Jika mengacu pada kriteria penilaian dalam penelitian ini, maka motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi.
Berdasarkan paparan data di atas, dapat dipaparkan temuan penelitian ini sebagai berikut: motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang; motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong sedang, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong tinggi, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi.
PEMBAHASAN
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Pemenuhan Kebutuhan Fisiologis
Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar mahasiswa Universitas Negeri Malang yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang. Temuan ini menggambarkan bahwa mahasiswa Universitas Negeri Malang yang menjadi responden penelitian ini orientasi hidupnya tidak lagi pada sekedar untuk memenuhi kebutuhan untuk makan, minum, pakaian karena kebutuhan-kebutuhan tersebut sudah relatif terpenuhi pada taraf sedang. Mereka tidak lagi berpikiran pendek. Sebab, menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiologis berarti mereka tidak mau berpikir panjang. Pikirannya cenderung difokuskan untuk memenuhi kebutuhan fisiologisnya seperti untuk makan, minum, pakaian, tempat tinggal. Penafsiran lainnya, bahwa sebagian mahasiswa yang menjadi responden penelitian ini kebutuhan fisiologisnya relatif sudah terpenuhi dan sebagian yang lain kurang terpenuhi sehingga berada pada taraf sedang artinya sebagian mereka sudah mau berpikir agak panjang dan sebagian yang lain kurang mau berpikir panjang. Dengan demikian di samping mereka masih perlu didorong untuk memenuhi kebutuhan pada level yang lebih tinggi yakni kebutuhan akan penghargaan diri dan kebutuhan untuk berprestasi yang tinggi, juga kebutuhan fisiologisnya perlu dipenuhi.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Pemenuhan Kebutuhan Rasa Aman
Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong sedang. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang menjadi responden penelitian kebutuhan rasa amannya relatif terpenuhi pada taraf sedang. Kadaan ini cukup baik karena menggambarkan mereka sudah mendapatkan ketenangan dan rasa aman dalam belajar di Universitas Negeri Malang. Menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya pada pemenuhan kebutuhan akan rasa aman orientasi hidupnya pada keselamatan dan keamanan, dan orang-orang ini hanya cocok menjadi seorang pekerja.
Karena hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kebutuhan akan rasa aman mahasiswa masih berada pada tahap sedang, berarti sebagian mahasiswa orientasi kebutuhan akan rasa amannya masih cukup tinggi sehingga mereka perlu lebih banyak diberikan jaminan akan rasa aman, sedangkan sebagian yang lain kebutuhan akan rasa amnnya sudah terpenuhi/rendah, yang bagus apabila kebutuhan akan rasa amannya rendah, artinya mereka sudah mencapai kehidupan yang aman, sehingga orientasi hidupnya berada pada level yang lebih tinggi. Mereka masih perlu didorong untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Rasa Memiliki dan Cinta, atau Rasa Kasih Sayang
Penelitian ini menemukan bahwa, motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong tinggi. Menurut Maslow (1954) orang-orang yang keutuhan akan rasa memiliki dan cinta, atau kebutuhan akan rasa amannya tinggi orientasi hidupnya lebih terfokus pada hidup kemasyarakatan, rasa sosialnya tinggi, dan orang-orang yang bertipe ini cenderung cocok kalau bekerja sebagai pekerja sosial seperti guru, ustads, agamawan, public relation.
Kedaan ini tampaknya baik untuk mahasiswa calon guru, namun demikian mereka masih perlu juga didorong untuk lebih mengorientasikan hidupnya pada kebutuhan berprestasi yang lebih tinggi lagi.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Penghargaan Diri
Penelitian ini menemukan bahwa motivasi belajar mahasiswa yang menjadi responden ini yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi. Keadaan ini cukup baik karena menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya pada penghargaan diri yang tinggi orientasi hidupnya lebih terfokus pada kedudukan, jabatan, status sosial yang tinggi. Orang-orang yang orientasi hidupnya tertuju pada penghargaan diri yang tinggi ada kecenderungan kebutuhan akan fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki kasih sayangnya sudah relatif terpenuhi.
Motivasi Belajar Mahasiswa yang Berorientasi pada Prestasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi. Keadaan ini menunjukkan sangat baik karena, menurut Maslow (1954) orang-orang yang orientasi hidupnya pada prestasi yang tinggi mereka sangat cocok untuk menjadi seorang wirausaha yakni seorang yang keberanian untuk hidup secara mandirinya sangat tinggi.
Di tengah-tengah kehidupan alumni Universitas Negeri Malang yang tidak mudah untuk segera mendapatkan pekerjaan setelah lulus, maka dipandang penting untuk mengarahkan kepada mahasiswa yang orientasi pencapaian prestasi yang tinggi ini untuk menjadi seorang wirausaha. Hasil-hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa korelasi antara kewirausahaan dengan need achievement yang tinggi telah terbukti secara signifikan.
Mc.Clelland (dalam Budiyanto, 1998) sangat optimis bahwa kewirausahaan seseorang dapat dipicu dan dipacu melalui training kewirausahaan. Orang-orang yang orientasi pada prestasinya tinggi sangat potensial untuk menjadi seorang pengusaha. Ia mengemukakan bahwa “training yang segera bagi seorang yang potensial menjadi pengusaha merupakan cara yang lebih mudah dan lebih cepat untuk mengembangkan motivasi ekonomi dalam negara yang belum maju”.
Menurut peneliti, Achievement Motivation Training (AMT) ini perlu diberikan baik kepada mahasiswa yang motivasi berprestasinya rendah maupun tinggi. Bagi mahasiswa yang motivasi berprestasinya rendah perlu mengikuti AMT agar mereka terdorong untuk mencapai prestasi yang tinggi. Menurut Maslow perilaku manusia dimotivasi oleh pemenuhan kebutuhan dasarnya. Kebutuhan dasar manusia terdiri atas (berurutan dari rendah ke tinggi): kebutuhan fisiologis, keamanan, cinta dan memiliki, penghargaan diri, dan perwujudan diri. Kebutuhan yang lebih tinggi baru akan terpenuhi jika kebutuhan yang lebih rendah sudah terpenuhi. Menurut Maslow kebutuhan rasa aman akan terpenuhi jika kebutuhan fisiologis sudah terpenuhi; kebutuhan kasih sayang akan terpenuhi jika kebutuhan fisiologis dan rasa aman sudah terpenuhi. Kebutuhan akan penghargaan diri terpenuhi jika kebutuhan fisiologis, rasa aman, dan kasih sayang sudah terpenuhi; kebutuhan perwujudan diri akan terpenuhi jika kebutuhan fisiologis, rasa aman, kasih sayang, dan penghargaan diri sudah terpenuhi.
Hasil tes motivasi ini akan menunjukkan kepada peserta, motivasi yang dicapai oleh peserta saat mengikuti pelatihan mencapai level mana. Kemungkinan hasil tes tersebut adalah, dimungkinkan para peserta posisi motivasinya berada level rendah atau pada level tinggi. Baik mereka yang berada pada level rendah maupun tinggi dibangkitkan untuk mengejar atau bertahan pada posisi motivasi pada level tinggi (orientasi berprestasi). Peserta kemudian didorong untuk mencapai prestasi tinggi, tidak perlu pencapaian prestasi tinggi melalui proses yang panjang seperti pada teori pemenuhan kebutuhan secara herarkhis yang dikemukakan Maslow. Sebab, jika peserta terdorong untuk mencapai prestasi tinggi maka kebutuhan-kebutuhan yang ada pada level yang lebih rendah dengan sendirinya akan terpenuhi. AMT merupakan jalan pintas untuk mencapai motivasi tertinggi (motivasi berprestasi). Orang-orang yang orientasi prestasinya tinggi sangat cocok untuk menjadi seorang wirausahawan.
Wirausahawan sangat perlu mengenali kekuatan (potensi) dan kelemahan (kendala) dirinya. Pengenalan dan pemanfaatan potensi diri dengan kesadaran akan kelemahan diri dapat diyakini akan mendorong (memotivasi) pencapaian cita-cita dan tujuannya. Semakin yakin akan prestasi diri semakin terdorong untuk berprestasi lebih baik lagi. Sejumlah aspek yang dapat membantu wirausahawan untuk mengembangkan prestasi diri adalah pemahaman tentang pengenalan diri dan motivasi berprestasi, pemahaman tentang kendala dan teknik dalam pengenalan dan pengungkapan diri, dan wawasan tentang nilai-nilai unggul dalam berprestasi (Siagian, 1996). Pengenalan diri merupakan modal dasar bagi seorang wirausahawan. Pengungkapan motivasi pada diri sendiri akan mencerminkan cara berpikir dan berperilaku seseorang pada kehidupannya sekarang dalam pencapaian prestasi dan kadar kebutuhannya.
Jika dikaitkan dengan pandangan Maslow, seseorang dikatakan berprestasi tinggi apabila ia mampu mengaktualisasikan diri. Aktualisasi diri merupakan level tertinggi pada hirarki kebutuhan Maslow. Mampu mengaktualisasikan diri berarti mampu melakukan apa yang cocok dengan apa yang dapat ia lakukan; ia dapat melakukan secara full use, atau eksploitasi seluruh bakat dan kemampuannya (Cook, 1984). Setiap orang pada dasarnya dapat mengaktualisasikan diri sesuai potensinya masing-masing.
Seseorang dianggap mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi apabila ia mempunyai keinginan untuk berprestasi lebih baik atau ia menganggap berprestasi lebih baik. Adanya motivasi berprestasi yang tinggi dapat dilihat dari pertama, pola perbuatan (mengambil tanggung jawab secara pribadi atas perbuatan menentukan standar prestasinya dan berpatokan pada standar itu, mengambil risiko secara wajar, mencoba memperoleh umpan balik, dan berusaha selalu melakukan sesuatu secara kreatif dan inovatif); kedua, pola pemikiran (mengungguli atau melebihi orang lain, memenuhi/melebihi standar prestasi yang ditentukan sendiri, melakukan sesuatu yang khas, dan mencapai karier diri (Siagian, 1996).
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan paparan data di atas, secara terperinci, maka dapat dipaparkan hasil penelitian ini sebagai berikut: Pertama, bahwa secara umum motivasi berprestasi mahasiwa Universitas Negeri Malang yang menjadi sampel penelitian ini adalah tinggi. Secara spesifik, motivasi-motivasi belajar mahasiswa yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan fisiologis tergolong sedang, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan rasa aman tergolong sedang, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan akan rasa memiliki dan cinta/kasih sayang tergolong tinggi, berorientasi pada pemenuhan kebutuhan penghargaan diri tergolong tinggi, dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan aktualisasi diri tergolong tinggi.
Kedua, berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan peneliti, kebutuhan yang diperlukan adalah memberikan dorongan kepada mahasiswa melalui diklat AMT bagi mahasiswa yang orientasi pemenuhan kebutuhannya berada pada level rendah untuk lebih berorientasi pada pencapaian prestasi yang tinggi, dan bagi yang orientasi pemenuhan kebutuhan prestasinya tinggi lebih diarahkan untuk menjadi seorang wirausahawan. Disamping itu, karena masih banyak juga mahasiswa yang motivasi belajarnya berada pada level rendah, maka dibutuhkan juga adanya layanan bagi mahasiswa yang tidak memberatkan mahasiswa karena diantara mereka masih ada yang orientasi pemenuhan kebutuhannya berada pada pemenuhan kebutuhan fisiologis, disamping itu juga perlu layanan yang lebih memberikan jaminan kenyamanan dan keamanan, serta rasa kasih sayang yang tinggi.
Saran
Universitas Negeri Malang memberikan layanan yang secara material memberatkan mahasiswa, dan peningkatan layanan yang dapat memberikan jaminan rasa nyaman dan aman dalam belajar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi berprestasi mahasiswa yang menjadi sampel penelitian ini rata-rata tinggi, untuk itu disarankan mereka diarahkan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menjadi seorang wirausahawan, karena orang-orang yang motivasi berprestasinya tinggi sangat potensial dapat menjadi wirausahawan yang sukses.
Pemberian pelatihan AMT bagi mahasiswa perlu dilaksanakan terutama kepada mahasiswa yang motivasi berprestasinya rendah karena AMT telah banyak teruji dapat meningkatkan motivasi berprestasi bagi peserta pelatihan.
DAFTAR RUJUKAN
Akbar, S. 2000. Prinsip-Prinsip dan Vektor-Vektor Percepatan Proses Internalisasi Nilai Kewirausahaan. Disertasi, Bandung: PPS UPI Bandung.
Budiyanto. 1998. Panduan Achievement Motivation Training Aplikatif. Bandung: Kadinda Kodya Bandung.
Chusmir, L.H. 1989. A Measure of Motivation Needs, A Journal of Human Behavior, v26 n2-3 sept.
Clelland, M. & Atkinson, L. 1953. The Achievement Motive. New York: Apleton Century Crofts Inc.
Clelland, D.C. 1987. Characteristic of Succesful Entrepreneur. Journal of Creative Behavior, v21 n3 jun.
Cook, M. 1994. Levels of Personality. New York: Praeger Publisher. A Devition of CBS Inc.
Gibson, I & Donelly. 1996. Organisasi: Perilaku, Struktur, Proses. Jakarta: Binarupa Aksara.
Goleman, D. 1997. Alih Bahasa: T. Hermaya. Emotional Intellegence. Jakarta: Gramedia.
Maslow. 1954. Motivation and Personality. New York: Harper and Brother.
Munawaroh. 2008. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Konstruktivistik, Cara Belajar dan Motivasi Belajar Terhadap Sikap Kewirausahaan pada Siswa SMKN 1 Jombang. Makalah, Malang: PPS UM.
Santika, R. 1995. Kontribusi Pelatihan dan Motivasi terhadap Produktivitas Tenaga Kerja pada Unit Kerja Kredit Bank Jabar. Tesis, Bandung: PPS UNPAD Bandung.
Siagian. 1996. Kewirausahaan Indonesia: Dengan Semangat 17-8-1945. Jakarta: Puslatpenkop dan PK.
Siman. 1997. Pembelajaran Nilai Kewirausahaan dalam Pengembangan Industri Kecil di Wilayah Bandung. Disertasi, Bandung: PPS IKIP Bandung.
Syaodih, N. 1983. Kontribusi Konsep Mengajar dan Motif berprestasi terhadap Proses Mengajar dan Hasil Belajar. Bandung: PPS IKIP Bandung.
Tucker, I.B. 1988. Entrepreneur and Public Sector Employees, The Role of Achievement Motivation and Risk in Occupational Choice. Journal of Economic Education, v19 n3 jan.
Wood, D.P. 1995. Entrepreneurship Education: Beliefs and Experiences of North Dakota Vocational Secondary School Teachers. Disertation Abstract, The University of Dakota.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar