Selasa, 14 April 2009

Guru SD Wajib Pakai Alat Peraga saat Mengajar

Tuesday, 24 February 2009
SURABAYA, SINDO – Minimnya serapan siswa sekolah dasar (SD) yang bisa membaca dan menulis membuat Dinas Pendidikan (Disdik) Surabaya kebakaran jenggot.



Mulai tahun ini Disdik mewajibkan guru SD di Surabaya baik negeri maupun swasta memakai alat peraga dalam proses pembelajaran di kelas. Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar (Dikdas) Disdik Surabaya Eko Prasetyoningsih menuturkan, proses pembelajaran siswa SD butuh alat yang bisa memacu kerja otak mereka. Keberadaan alat peraga diyakini mampu menambah daya nalar dan konsentrasi dalam membaca, menulis, dan berhitung. ”Keberadaan alat peraga bisa memperpanjang fase perkembangan otak yang dimiliki siswa tersebut.

Alat-alat tersebut bisa membantu otak siswa untuk membayangkan sesuatu,” ujar Eko kemarin. Mantan Kepala SDN Wonokusumo II Surabaya itu mengatakan, anak SD terutama mereka yang masih duduk di kelas 1-3 tidak mampu menerjemahkan perintah guru yang hanya mengajar sesuai teori di sekolah. Alat peraga tidak hanya berupa gambar. Ada banyak jenis alat peraga seperti mobil-mobilan,balok, dan potongan kertas. ”Tinggal bagaimana nanti guru kreatif dalam memainkan alat peraga,” ucapnya.

Akhir Mei nanti, Disdik akan mengadakan ujian membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Ujian tersebut dilakukan untuk memetakan kualitas siswa SD sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Eko membeberkan, untuk teknis pelaksanaan ujian calistung terdiri atas 40 soal membaca, 40 soal menulis, dan 30 soal berhitung. ”Pelaksanaan ujian calistung dilakukan selama dua hari sebelum pelaksanaan ulangan akhir sekolah (UAS),” ungkapnya.

Direktur Aksi Tanggap Pendidikan (Atap) Surabaya Isa Anshori mengatakan,proses pembelajaran terutama untuk membaca memang tidak bisa dilakukan secara sporadis. Perkembangan otak tiap siswa memiliki perbedaan sehingga tidak bisa semua siswa dianggap mampu menerjemahkan soal teori. Sebagai langkah awal,kata Isa,guru di kelas harus bisa memahami kompetensi dan kemampuan tiap siswa. Tiap perkembangan fase siswa harus ada laporan dan grafik pemantauan secara berkelanjutan.

”Model pembelajaran juga harus bisa diatur sesuai kebutuhan siswa. Bila perlu, siswa diajak bermain untuk mengimbangi teori yang diajarkan di kelas karena usia siswa SD masih terlalu belia kalau terus dicekoki teori,”ungkapnya. (aan haryono)

(Sumber SEPUTAR-INDONESIA.COM, 23 Februari 2009)

Tidak ada komentar: