Ditulis oleh Drs. Edi Basuki
Upaya menyamakan langkah program kesetaraan
Sampai sekarang belum ada model yang berciri khas BPPLSP. Masih sering sama atau mirip dengan model buatan BPKB/ UPT PKB, sehingga perlu diadakan pertemuan khusus yang akan merumuskan model BPPLSP yang benar-benar beda dengan buatan BPKB, agar bisa menjadi model unggulan yang berkualitas untuk kemudian diangkat sebagai model PLS tingkat nasional . Karena, apa yang dipresentasikan, baik hasil pengembangan model, kajian dan media pembelajaran masih ada kemiripan dengan model-model yang dikembangkan oleh BPKB, sehingga yang terjadi model yang dikembangkan itu masih sekedar karya ilmiah yang belum bisa di aplikasikan dalam pelaksanaan program PLS, kalau pun ada, masih berkenaan dengan kegiatan uji coba.
Demikian antara lain komentar dari Meidelina, staf PTK-PNF yang disampaikan dalam kegiatan Focus Group Discusion (FGD) program pendidikan kesetaraan lintas regional yang dilaksanakan di Batu, Malang, Jawa Timur tanggal 6 – 9 Desember 2007.
Kegiatan yang di gelar di Hotel Asida dan di buka secara resmi oleh Kepala BPPLSP, Harun Al Rasyid ini dihadiri oleh pamong belajar dari BPPLSP regional I Medan, Regional II Bandung, Regional III Semarang, Regional IV Surabaya dan Regional V Makasar. Masing-masing memaparkan hasil pengembangan model, kajian dan media pembelajaran pendidikan kesetaraan sesuai kreativitas dan karakteristik daerah masing-masing. Seperti model Kelas Berjalan, KTSP program kesetaraan, Pembinaan Musyawarah Tutor Mata Pelajaran, e-learning kesetaraan berbasis internet dan Home schooling.
Semua di diskusikan sebagai upaya tukar informasi untuk memperluas wawasan mengenai pengembangan model, kajian dan media pembelajaran dalam suasana hangat penuh keakraban serta merumuskan isue-isue strategis sebagai bahan masukan perumusan kebijakan tingkat nasional tahun 2008 di bidang pendidikan kesetaraan pada khususnya.
Dalam kesempatan lain, Cecep, wakil dari direktorat kesetaraan juga menyinggung tentang perlunya melakukan sosialisasi yang lebih gencar dengan dukungan dana yang memadai. Dia juga berharap bahwa kegiatan sosialisasi ini jangan hanya dilakukan di tingkat pejabat saja, tetapi juga kepada mereka yang langsung menangani program di lapangan . Cecep pun dalam kesempatan itu juga menyoroti masalah ijasah kesetaraan yang lambat diterima oleh peserta yang lulus ujian nasional pendidikan kesetaraan, sehingga perlu dibenahi agar peserta bisa memanfaatkan dengan segera.
“Untuk itulah pamong belajar yang berkecimpung dalam kesetaraan memberi masukan kepada direktorat.” Pintanya kepada peserta FGD.
Kemudian, pria berdarah sunda ini pun mengomentari tentang konsep Satuan Kredit Kompetensi (SKK) yang masih berbenturan dengan sistem ujian nasional yang masih menginduk ke UNAS sekolah formal dimana waktunya sudah di tentukan.
Supriono, konsultan BPPLSP regional IV pada sesi penegasan, mengharapkan, kedepan, hendaknya BPPLSP yang seharusnya sudah berubah nama menjadi BPNFI, dalam menyusun model pendidikan non formal tidak sekedar melakukan replikasi semata, tetapi model yang dihasilkan harus ada perbedaan yang jelas dengan apa yang dibuat oleh BPKB, hal ini mengingat BPPLSP merupakan pembawa dan penjaga mutu serta inovasi program PNF, sehingga upaya meningkatkan profesionalisme pun perlu terus dilakukan lewat berbagai diklat yang difasilitasi oleh direktorat kesetaraan untuk mengembangkan jati diri dan kompetensi progam kesetaraan yang semakin hari semakin di toleh oleh masyarakat luas, apalagi sejak adanya hak eligibilitas bagi pendidikan kesetaraan. Kejar paket menjadi primadona PNF yang bisa menyelamatkan para siswa yang gagal unas.
Di dalam kegiatan FGD ini, berhasil dirumuskan beberapa rekomendasi, diantaranya, yang menarik adalah peserta forum bersepakat untuk membangun mailing list maupun membuat weblog kesetaraan berbasis internet sebagai ajang berdiskusi, mempererat tali silaturahim dan tukar informasi melalui dunia maya.
Kemudian acara FGD ini pun diakhiri dengan pesta jagung bakar sambil pamer kebolehan menyanyikan tembang-tembang yang sedang ngetop saat ini.
Sebelum meninggalkan jawa timur, peserta diajak rekreasi ke Taman Safari Prigen, Pasuruan untuk melihat aneka satwa langka. Dimana, Taman Safari Prigen ini merupakan cabang dari Taman Safari yang ada di Bogor.
Semoga FGD yang baru pertama dilaksanakan ini bisa membawa kenangan manis dan manfaat yang signifikan sehingga tahun 2008 layak untuk diprogramkan kembali.
[edibasuki@bpplsp-reg4]
Senin, 18 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar