Jumat, 22 Mei 2009

Mencegah Berkembangnya Prostitusi

Pesantren Daar At Taubah Bandung

By Republika Newsroom
Jumat, 09 Januari 2009 pukul 07:01:00


Bagi segelintir orang Bandung, bila mendengar kawasan Saritem maka pikiran langsung beranggapan negatif. Maklum, kawasan itu sudah terkenal sebagai kawasan prostitusi yang ada di Kota Kembang. Begitu memasuki kawasan tersebut telinga kita langsung mendengar alunan musik dangdut dan lagu cirebonan. Jejeran kamar-kamar kecil saling berhadapan yang dipisahkan oleh gang-gang kecil menjadi pemandangan umum di sana.

Kamar-kamar yang dijadikan lokalisasi prostitusi itu bercampur dengan rumah penduduk. Hal itu tentu saja bisa membingungkan orang "baru" yang melewati gang tersebut. Selain itu, penampilan para wanita penjaja seks itu terlihat biasa saja di siang hari. Tidak begitu jauh penampilannya dengan warga asli Saritem. Namun, Saritem tak melulu berkonotasi negatif. Di kawasan tersebut nyatanya terdapat Pondok Pesantren Daar At Taubah yang merupakan satu-satunya pesantren di kawasan lokalisasi itu.

Dari luar, bangunan pesantren tersebut begitu megah. Berdampingan dengan masjid yang namanya pun sama yakni Daar At Taubah. Selain masjid, pesantren tersebut memiliki fasilitas lain, yakni adanya Taman Kanak-kanak dan pondok santri untuk putri meskipun masih dalam tahap penyelesaian.

Pesantren yang luasnya 600 meter persegi ini merupakan lembaga pendidikan keagamaan masyarakat setempat. ''Lembaga pendidikan keagamaan ini mempunyai visi dan misi yakni memberikan pelayanan dengan cara pembinaan kerohanian. Baik itu untuk warga asal Saritem, maupun warga pendatang. Visi dan misi itu, bertujuan untuk mengubah citra kawasan lokalisasi Saritem,'' kata Ketua Harian Daar At Taubah, KH Ahmad Haedar, membuka obrolan dengan Republika pekan lalu.

Sejak dibangun pada tahun 2000, pesantren tersebut ditujukan sebagai sarana untuk bertaubat warga Saritem. ''Selain itu, sebagai Muslim, saya pribadi berkewajiban untuk mensyiarkan amar ma'ruf nahi munkar, sehingga diharapkan mereka kembali menuju jalan yang benar. Sarana yang ada diharapkan bisa menarik minat mereka, untuk segera bertaubat,'' ujar Ahmad.

Pembangunan pesantren tersebut, lanjut Ahmad, berkat rasa kepedulian pemerintah terhadap masyarakat Saritem. Warga setempat ingin adanya perubahan secara signifikan, dengan menjadikan kawasan Saritem sebagai kawasan religius. Masyarakat sekitar pun, tambahnya, begitu antusias dan peduli dengan tawaran pemerintah. Rasa peduli itu, diwujudkan masyarakat Saritem dengan memberikan tenaganya guna membantu pembangunan pesantren.

Kegiatan pesantren yang menjadi rutinitas, papar Ahmad, sama halnya dengan kebanyakan pesantren lain. Kegiatan itu berupa kajian-kajian kitab kuning, pengajian setiap malam Jumat, serta memberikan pelayanan rohani. Pelayanan ini, bersifat pembinaan rohani dengan sasaran masyarakat biasa dan luar biasa (penghuni lokalisasi). Pembinaan rohani ini, kata dia, berupa pengajian yang mengundang masyarakat setempat.

'' Dengan berdirinya pesantren ini sejak 2000, alhamdulillah sudah banyak PSK yang bertaubat. Karena pada dasarnya mereka masih memiliki nurani, jadi mereka berkeinginan untuk mengubah hidupnya. Sayangnya, masalah prostitusi sudah ada sejak dulu, jadi kami susah memberantasnya. Kami hanya bisa mengadakan pembinaan rohani saja, selebihnya itu urusan mereka,'' ujar ayah dua anak ini.

Jumlah santri di pesantren ini tercatat 160 orang yang kebanyakan berasal dari Bandung. Di antara mereka santri yang tinggal di pondok mencapai 60 orang. Santri nonmukim merupakan santri yang berasal dari daerah sekitar Saritem, yang jumlahnya 100 orang. Menurut Ahmad, adanya santri dari daerah sekitar dimaksudkan untuk meminimalisasi berkembangnya kegiatan prostitusi.

''Diharapkan generasi sekarang bisa memotong rangkaian kegiatan prostitusi tersebut. Biarlah, hanya bapak-bapaknya saja yang terjerumus. Kalau anak-anaknya dibekali ilmu agama sejak dini, insya Allah anak tersebut tidak terjerumus ke dalam lembah hitam,'' kata suami Dede Solihah ini.

Pondok pesantren melalui santrinya, lanjut Ahmad, memberikan pelayanan rohani kepada PSK setempat dengan cara pendekatan persuasif. Pendekatan ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dari pendekatan ini terlihat adanya perubahan yang signifikan. Perubahan itu, misalnya, setiap diundang mengikuti pengajian mereka merespons secara positif. Respons ini, tambah dia, berupa mengikuti pengajian dan berkurangnya aktivitas di siang hari.

Ahmad menambahkan, informasi yang didapat dari salah seorang mucikari menyebutkan bahwa para pelacur Saritem menurun empat puluh persen. ''Dulu sebelum pesantren ini dibangun, pasar malam di Saritem selalu ada, dengan menawarkan kenikmatan semu. Alhamdulillah, semenjak adanya pesantren ini, frekuensi kegiatan malam di Saritem mulai menurun,'' katanya.

Kehadiran pesantren ini, lanjut Ahmad, merupakan oase di tengah-tengah padang pasir. Selain itu, pesantren ini juga dijadikan fasilitator untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Untuk itu, kata Ahmad, dengan adanya partisipasi dari seluruh elemen masyarakat, diharapkan lembaga keagamaan ini dapat menjalankan misinya, yakni amar ma'ruf nahi munkar.toy/dokrep/September 2004

Tidak ada komentar: