Ditulis oleh Billy Antoro, tanggal 13-05-2009
Prof. Suyanto, Ph.D. dalam pertemuan dengan BAN-S/M
Jakarta (Mandikdasmen): Akreditasi menjadi salah satu instrumen penting bagi pengembangan mutu pendidikan. Agar sekolah-sekolah memahami urgensinya, perlu sebuah stimulan agar akreditasi benar-benar dirasakan riil keberadaannya. “Kita setuju hasil akreditasi dijadikan faktor insentif untuk program-program kita di daerah,” kata Prof. Suyanto, Ph.D., Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional. Suyanto mengatakan demikian dalam pertemuan dengan Badan Akreditasi Nasional-Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) di Ruang Sidang Gedung E lantai 5, Kompleks Depdiknas, Senayan, Jakarta, Selasa (12/5).
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 1,5 jam itu, BAN-S/M mempresentasikan beberapa hal pokok berkaitan dengan kinerja BAN-S/M, di antaranya capaian kinerja BAN-S/M 2007-2008 dan target 2009, pemetaan hasil akreditasi per jenjang dan per daerah, kontribusi Pemerintah Daerah terhadap akreditasi, dan permasalahan pokok dalam pelaksanaan akreditasi.
Pada tahun 2007, dari jenjang TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK (program keahlian), hingga SLB, terdapat 53.958 sekolah/madrasah yang terakreditasi. Pada tahun 2008 terdapat 38.861 sekolah/madrasah yang terakreditasi. Sehingga jumlah total sekolah/madrasah yang terakreditasi sejak 2005-2008 mencapai 152.284 buah. Pada 2009 ditargetkan sekolah/madrasah yang akan diakreditasi berjumlah 26.500 buah. Sehingga sisa sekolah/madrasah yang belum diakreditasi sampai dengan 2009 mencapai 116.414 buah.
Pada kesempatan tersebut, Dr. Umaedi, M.Ed., Ketua BAN-S/M, juga memaparkan peringkat akreditasi per jenjang pendidikan tiap provinsi tahun 2008. Diuraikan pula partisipasi pendanaan akreditasi sekolah/madrasah tiap provinsi tahun 2008.
Umaedi juga menyebutkan sejumlah permasalahan yang dihadapi BAN-S/M dalam menjalankan peran dan fungsinya. “Perhatian dari Dinas Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota terhadap BAP-S/M belum maksimal, karena melihat akreditasi tidak memberi manfaat secara langsung bagi sekolah,” ujarnya. Kedua, pemanfaatan hasil akreditasi untuk pembinaan sekolah secara umum belum maksimal. Ketiga, adanya penolakan sekolah/madrasah untuk diakreditasi karena mereka sudah mendapatkan ISO atau alasan belum siap diakreditasi. Keempat, hasil akreditasi belum dimanfaatkan oleh sekolah dan direktorat-direktorat. Kelima, Dukungan Pemda di daerah terhadap pelaksanaan akreditasi belum maksimal. Terutama terkait dengan sosialisasi, mengingat anggaran untuk sosialisasi yang dimiliki BAN-S/M sangat terbatas. Keenam, Alokasi anggaran tiap tahun selalu menurun sehingga target akreditasi 2009 'tuntas' tidak tercapai.
Pertemuan antara Ditjen Mandikdasmen dan BAN-S/M itu juga dihadiri sejumlah pejabat di lingkungan Ditjen Mandikdasmen, antara lain Dr. Sungkowo Mudjiamano (Direktur Pembinaan SMA), Dr. Joko Sutrisno (Direktur Pembinaan SMK), dan Drg. Eko Djatmiko Sukarso, MM, M.Kom. (Direktur Pembinaan SLB).
Kamis, 14 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar