Jumat, 22 Mei 2009

Lembaga Pendidikan Islam Harus Mau Berubah

Amin Haedari: Lembaga Pendidikan Islam Harus Mau Berubah
By Republika Newsroom
Senin, 15 Desember 2008 pukul 12:54:00


Lembaga pendidikan Islam, baik madrasah maupun pesantren, di mata masyarakat masih dipandang sebelah mata. Ia telah memiliki citra tersendiri, sebagai lembaga pendidikan yang tak terkelola dengan baik dan belum mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Menurut Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren, Departemen Agama, Amin Haedari, masalah ini memang harus segera diselesaikan. Lembaga pendidikan Islam, katanya, mesti terdorong untuk melakukan perubahan baik dalam hal manajerial maupun pengemasan citra dirinya. Di bawah ini adalah petikan wawancara wartawan Republika, Ferry Kisihandi dengan Amin Haedari, di Brebes beberapa waktu lalu:

Bagaimana menurut Anda perkembangan lembaga pendidikan Islam, terutama madrasah dan pesantren, selama ini?
Madrasah dan pesantren itu sebenarnya seperti dua sisi uang yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika kita bicara pesantren tak lepas dari madrasah begitupun sebaliknya karena sebetulnya kemunculan madrasah ini berasal dari lingkungan pesantren pula. Dengan demikian kemajuan pesantren akan terkait pula dengan kemajuan madrasah.

Untuk masa mendatang seharusnya kedua fungsi masing-masing lembaga tersebut terintegrasi. Dalam pandangan saya, madrasah itu memiliki tugas bagaimana mengembangkan pengetahuan umumnya. Sedangkan pesantren mempunyai tugas untuk lebih mengembangkan ilmu-ilmu agamanya. Jika ini terintegrasi, maka akan mewujudkan hal yang ideal.

Kedua lembaga tersebut akan menghasilkan para ilmuwan yang ditopang oleh pengetahuan agama yang mendalam pula. Ini sangat penting karena pada masa-masa mendatang, banyak dibutuhkan orang yang berpengetahuan luas dan ilmu agamanya pun dalam.

Namun kedua lembaga ini tampaknya kesulitan dalam mewujudkan hal tersebut, apa sebabnya?
Sebenarnya kesulitan mewujudkan hal tersebut bertitik tolak pada manajemen atau pengelolaan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Tadinya, pesantren mendirikan madrasah untuk menyinergikan ilmu agama maupun pengetahuan umum. Namun, yang terjadi malah seperti air dan minyak, upaya integrasi tersebut belum berhasil dengan baik.

Menurut saya keberhasilan sinergi ini akan sangat bergantung pada kemampuan pucuk pimpinan lembaga tersebut untuk mengintegrasikannya. Untuk mewujudkannya memang diperlukan seorang manajer yang mumpuni. Dan, saya yakin ini bisa dilakukan. Artinya, ini bergantung pada bagaimana seorang pimpinan mampu mendelegasikan kepercayaan dan tugasnya kepada para pembantunya.

Lalu sejauh mana Anda melihat masalah manajerial ini dapat diatasi dengan baik oleh pimpinan lembaga pendidikan Islam di Tanah Air?
Saya akui bahwa tak semua pimpinan lembaga pendidikan Islam, misalnya pimpinan pesantren yang juga mengelola madrasah, yang mampu memberikan kepercayaan kepada para pembantunya. Dengan demikian, para pembantunya itu diberi kebebasan untuk berkreativitas dalam menjalankan lembaga pendidikan tersebut. Ini merupakan contoh yang bagus.

Namun, ada pula pimpinan lembaga pendidikan Islam yang tak mau dan mampu memberikan kepercayaan kepada orang lain. Dengan demikian, kekuasaan akan berada di satu tangan saja. Sehingga para pembantunya itu akan selalu takut melakukan beragam upaya untuk mengembangkan lembaga pendidikan tersebut. Jika melakukan sebuah langkah, mereka takut salah.

Ini memang akan sangat bergantung pada wawasan pimpinan lembaga pendidikan Islam itu sendiri. Kalau mereka memiliki wawasan yang luas tentunya pendelegasian tugas akan berjalan dengan baik. Namun, jika hal sebaliknya terjadi maka ia tak akan mampu dan mau mendelegasikan kepercayaan kepada para pembantunya untuk berkreasi.

Selain masalah manajerial faktor apa yang menyebabkan lembaga pendidikan Islam tak mampu berkembang secara optimal?
Faktor penting lain yang menjadi penentu berkembangnya lembaga pendidikan Islam adalah pengajar. Meski banyak kalangan menyatakan bahwa kurikulum harus menjadi fokus bagi pengembangan lembaga pendidikan. Namun, bagi saya, tidaklah mesti demikian. Kalaupun kurikulumnya bagus namun jika tenaga pengajarnya tak mampu menerjemahkannya ke dalam pengajaran yang baik maka kurikulum itu akan sia-sia belaka.

Masalah pengajar akan bermula pula dari bagaimana merekrut tenaga pengajar bagi kedua lembaga pendidikan tersebut. Kembali saya tekankan, jika pimpinan lembaga pendidikan Islam merupakan manajer yang bagus ia akan menempatkan orang-orang yang kompeten. Artinya pengajar tersebut memiliki kemampuan mengajar yang baik. Tak didasarkan pada hubungan kekerabatan semata.

Karena seorang pengajar tentunya harus lebih memiliki wawasan luas dibandingkan murid-muridnya. Selain itu, pengajar juga harusnya diberikan kesempatan untuk selalu mengembangkan ilmu dan potensi yang ada di dalam dirinya. Dengan demikian, selain meningkatkan kualitas si pengajar juga para anak didiknya.

Selama ini lembaga pendidikan Islam, madrasah dan pondok pesantren, memiliki citra yang tak terlalu baik di kalangan masyarakat. Bagaimana menurut Anda?
Ini terjadi karena kedua lembaga pendidikan tersebut kurang menguasai informasi untuk menciptakan citra dirinya. Sebenarnya banyak madrasah maupun pesantren yang bagus, namun mereka terkadang tak mampu menginformasikannya dengan baik kepada masyarakat. Dalam pengamatan saya telah banyak madrasah maupun pesantren yang memiliki kualitas di atas sekolah-sekolah umum.

Meski memang harus diakui pula masih ada madrasah maupun pesantren yang dikelola secara asal-asalan. Karena tak mampu mengemas informasi untuk menciptakan citranya, pada akhirnya masyarakat terus memandang bahwa kedua lembaga ini tak berkualitas. Saya bisa contohkan pula, beberapa waktu lalu orang memandang bahwa pesantren adalah sarang teroris.

Padahal pesantren yang dituduh menjadi sarang teroris adalah satu atau dua pesantren, namun akhirnya orang secara umum beranggapan bahwa semua pesantren adalah sarang teroris. Di sinilah kemudian terlihat lebih jelas bagaimana pesantren maupun madrasah belum mampu mengemas informasi yang menciptakan citra yang baik di kalangan masyarakat.

Dengan beragam persoalan yang melekat pada lembaga pendidikan Islam, apa yang harus dilakukan?
Hal terpenting adalah kemauan untuk melakukan perubahan baik dalam hal manajerial maupun kualitas pengajar. Meski melakukan perubahan itu tidaklah mudah untuk dilakukan. Tak jarang ada resistensi yang muncul ketika kita melakukan perubahan. Jadi, harus ada komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.

Dalam menentukan pengajar, misalnya, kalangan lembaga pendidikan Islam mesti mampu merekrut tenaga pengajar yang berkualitas. Para pengajar memang harus benar-benar memiliki wawasan dan kualitas pengajaran yang baik. Nyatanya sekarang banyak pengajar yang tak memiliki kualitas yang bagus.

Dulu, guru itu merupakan sebuah panggilan hati namun sekarang menjadi pengajar atau guru merupakan pilihan terakhir. Dengan demikian tak jarang para pengajar itu berbekal ilmu seadanya saja. Hingga tak melahirkan pengajaran yang berkualitas juga murid yang berkualitas.

Makanya lembaga pendidikan Islam harus mampu memilah mana pengajar yang benar-benar mengajar dengan panggilan hati. Menurut saya, ini juga harus diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan guru. Jangan sampai mereka dituntut memberikan yang terbaik namun kita tak mampu memberikan imbalan yang setimpal.

Penulis : Ferry Kisihandi
REPUBLIKA - Jumat, 03 September 2004

Tidak ada komentar: